Tampilkan postingan dengan label literatur Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literatur Review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 September 2023

Macam Macam Kontrasepsi KB

Latar Belakang 

 Progam KB dan kesehatan reproduksi dilaksanakan untuk memenuhi hak-hak reproduksi sehingga keluarga dapat mengatur waktu jumlah anak, jarak kelahiran anak secara ideal sesuai dengan keinginan atau tanpa paksaan dari pihak manapun. Dengan pemenuhan hak-hak reproduksi diharapkan keluarga dapat memiliki anak yang ideal, kondisi kesehatan seksual dan reproduksi prima dan dapat menikmati nilai tambah dalam kehidupan social dan aktifitas perekonomian nya. Dampak pemenuhan hak-hak reproduksi tersebut secara langsung adalah terwujudnya keluarga kecil sehat dan sejahtera sehingga pada akhirnya dapat terwujud keluarga yang bahagia. 

Kontrasepsi nonhormonal yang digunakan oleh pemakai lebih efektif menekan tingkat kegagalan dibandingkan alat kontrasepsi hormonal seperti pil, suntik, susuk. Alat kontrasepsi nonhormonal memiliki efek samping yang lebih rendah dan harga lebih terjangkau. Problem KB hormonal biasanya berkaitan dengan fisik seperti kegemukan, bercak hitam pada kulit, menstruasi yang tidak teratur. Sementara itu kontrasepsi nonhormonal dapat meminimalkan efek samping tersebut dan hanya bersifat menghambat pembuahan. 

Kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi yang paling banyak digunakan wanita di negara-negara maju. Para wanita menggunakannya untuk mencegah kehamilan. Setiap tahun pasangan menikah pada usia subur semakin meningkat, diketahui dari data website resmi pemerintah Kabupaten Wonogiri pada tahun 2010 jumlah pasangan menikah usia subur sebanyak 218.125 pasangan. Kecenderungan peningkatan pasangan menikah usia subur akan berdampak pada peningkatan angka kelahiran dan kepadatan penduduk yang nantinya bila tidak diatur akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup suatu keluarga, sehingga akan bertolak belakang dengan program pemerintah yaitu mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Tata laksana untuk mengatasi permasalahan tersebut sangat diperlukan, termasuk dalam penggunaan kontrasepsi hormonal baik berupa estrogen saja maupun kombinasi estrogen dan progesterone (Hartanto, 2004). 


  Definisi 

Kontrasepsi berasal dari kata ”kontra” berarti mencegah atau melawan, sedangkan kontrasepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan, sebagai akibat adanya peertemuan antara sel telur dan sel sperma tersebut Sedangkan kontrasepsi non hormonal adalah suatu cara atau metode yang bertujuan untuk mencegah pembuahan sehingga tidak terjadi kehamilan yang tidak mengandung hormon (estrogen dan progesteron). (Maryani, 2008).

Kelurga Berencana (KB) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk mendapatkan obyektif-obyektif tertentu, menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kehamilan yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungannya dengan umur suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga (WHO 2006).

KB non hormonal adalah metode KB sederhana yang digunakan tanpa bantuan orang lain. Diantara KB sederhana adalah kondom metode ini akan lebih efektif jika penggunaannya diperhitungkan dengan masa subur (Ida Ayu Chanranika.2010).
Jenis metode KB pasca persalinan terbagi menjadi dua yaitu non hormonal dan hormonal. jenis kontrasepsi non hormonal yaitu MAL, kondom, AKDR dan kontrasepsi mantap (tubektomi dan vasektomi) sedangkan jenis kontrasepsi  hormonal terbagi dua yaitu progestin (pil, injeksi dan implan) dan kombinasi (pil dan injeksi). Menurut BKKBN dan Kemenkes R.I. (2012).


MANFAAT KONTRASEPSI 

a. Kontrasepsi

Efektifit bila digunakan dengan benar
Tidak mengganggu produksi ASI
Tidak manggangu kesehatan klien
Tidak mempunyai pengaruh sistemik
Murah dan dapat dibeli secara umum
Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
Metode resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus
Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrsepsi lainnya harus ditunda

b.   Non kontrasepsi
Memberi dorongan kepada suami untuk ituk ber-KB
Dapat mencegah penularan IMS
Mencegah ejakulasi dini
Membantu mencegah terjadinya kanker srviks (mengurangi iritasi bahan karsinogonik eksogen pada servik)
Saling berinteraksi sesama pasien



MACAM-MACAM KONTRASEPSI NON HORMONAL 

 Kontrasepsi tanpa menggunakan alat (alamiah)

Kontrasepsi Alamiah adalah suatu upaya mencegah / mengahalangi pembuahan atau pertemuan antara sel telur dengan sperma dengan menggunakan metode-metode yang tidak membutuhkan alat ataupun bahan kimia (yang menjadi cirri khas metode perintang ) juga tidak memerlukan obat-obatan. Adapun jenis-jenis dari kontrasepsi alamiah adalah sbb:

1. Metode Amenorea Laktasi

a. Definisi
metode amenorea laktasi adalah kontrasepsi yang mengendalikan pemberian air susu.  kontrasepsi MAL mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif untuk menekan ovulasi. 
metode ini memiliki 3 syarat yang harus di penuhi : 
ibu belum mengalami haid.
bayi disusui secara eklusif dan sering, sepanjang siang dan malam. 
bayi berusia kurang dari 6 bulan


b. Efektifitas
Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 % apabila digunakan secara benar dan memenuhi persyaratan sebagai berikut : digunakan selama enam bulan pertama setelah melahirkan sebelum mendapat haid pasca melahirkan dan menyusui secara eklusif (tanpa  memberikan makanan atau minuman tambahan).


Cara kerja
  Cara kerja dari MAL adalah menunda atau menekan terjadinya ovulasi. Pada saat laktasi bbatau menyusui, hormon yang berperan adalah prolaktin dan oksitoksin. semakin sering menyusui, maka kadar prolaktin meningkat dan hormon gonadotrophin melepaskan hormon penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan mengurangi kadar mengurangi kadar estrogen sehingga tidak terjadi ovulasi.   
d. Indikasi 
Metode amenorea laktasi  (MAL) dapat digunakan oleh  wanita yang ingin menghindari kehamilan dan memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) wanita yang menyusui secara eksklusif.
b) Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan.
c) wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan. 
 e. Kontraindikasi yang tidak dapat menggunakan MAL
a) Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.
b) Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.
c) Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam.



2. Senggama Terputus (koitus interuptus) 

a. Definisi
Senggama terputus ialah penarikan penis dari vagina sebelum terjadinya ejakulasi.Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa pria menyadari sebelumnya akan ada terjadi ejakulasi, dan dalam waktu kira-kira 1 detik sebelum ejakulasi terjadi digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina. Cara Kerja Alat kelamin (Penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina sehingga kehamilan dapat dicegah. Keuntungan dari cara ini adalah tidak membutuhkan biaya, alat maupun persiapan. kekurangannya adalah dibutuhkan pengendalian diri yang besar dari pria dan penggunaan cara ini dapat menimbulkan neurasteni. Manfaat Kontrasepsi yaitu Efektif bila digunakan dengan benar,  Tidak mengganggu produksi ASI, Dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya, Tidak Ada efek samping,  Dapat digunakan setiap waktu,Tidak membutuhkan biaya Non Kontrasepsi, Meningkatkan keterlibatan pria dalam keluarga berencana, Untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang sangat dalam, efektif : Bagi wanita yang suami atau pasangannya mampu mengontrol waktu ejakulasi.


b. Indikasi
a) Pria yang ingin berpartisipasi aktif dalam keluarga berencana
b) Pasangan yang tidak ingin memakai metode KB lainnya
c) Pasangan yang memerlukan kontrasepsi dengan segera
d) Pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu metode yang lainnya
e) Pasangan yang memerlukan metode pendukung serta Pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur.
c. Kontraindikasi 
a) Pria dengan pengalaman ejakulasi dini
b) Pria yang sulit melakukan sanggama terputus
c) Pria yang memiliki kelainan fisik atau psikologis ·
d) Perempuan yang mempunyai pasangan yang sulit bekerja sama
e) Pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi dan pasangan yang tidak bersedia melakukan sanggama terputus.



3. Suhu basal
a. Definisi Dan Tujuan Suhu Basal
Suhu basal adalah suhu yang diukur waktu pagi segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas apa-apa. Tujuan pencatatan suhu basal untuk mengetahui kapan terjadinya masa subur/ovulasi. Suhu basal tubuh diukur dengan alat yang berupa termometer basal. Termometer basal ini dapat digunakan secara oral, per vagina, atau melalui dubur dan ditempatkan pada lokasi serta waktu yang sama selama 5 menit. Suhu normal tubuh sekitar 35,5-36 derajat Celcius. Pada waktu ovulasi, suhu akan turun terlebih dahulu dan naik menjadi 37-38 derajat kemudian tidak akan kembali pada suhu 35 derajat Celcius. Pada saat itulah terjadi masa subur/ovulasi.
Metode suhu tubuh dilakukan dengan wanita mengukur suhu tubuhnya setiap hari untuk mengetahui suhu tubuh basalnya. Setelah ovulasi suhu basal ( BBt / basal body temperature ) akan sedikit turun dan akan naik sebesar ( 0,2 – 0,4 ° C ) dan menetap sampai masa ovulasi berikutnya. Hal ini terjadi karena setelah ovulasi hormone progesterone disekresi oleh korpus luteum yang menyebabkan suhu tubuh basal wanita naik. Adapun kelemahan dari metode ini adalah membutuhkan motivasi, Perlu diajarkan oleh spesialis keluarga berencana alami, Suhu tubuh basal dipengaruhi oleh penyakit, Apabila suhu tubuh tidak diukur pada sekitar waktu yang sama setiap hari akan menyebabkan ketidakakuratan suhu tubuh basal, Tidak mendeteksi permulaan masa subur sehinggamempersulit untuk mencapai kehamilan, Membutuhkan masa pantang yang lama, karena ini hanyalah mendeteksi pasca ovulasi. Sedangkan Keuntungan dari metode ini adalah Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pasangan terhadap masa subur, Membantu wanita yang mengalami siklus tidak teratur dengan cara mendeteksi ovulasi, Dapat membantu menunjukan perubahan tubuh lain seperti lender serviks, Berada dalam kendali wanita, Dapat digunakan mencegah atau meningkatkan kehamilan. Efek SampingPantang yang terlampau lama dapat menimbulkan stress atau frustasi. Hal ini dapat diatasi dengan pemakaian kondom atau tablet wanita sewaktu senggama. Daya guna teoritis adalah 15 kehamilan per 100 wanita pertahun. Daya guna pemakaian adalah 20 – 30 kehamilan per 100 wanita/tahun.

b. Indikasi

a) Wanita yang mau mengamati tanda kesuburan.
b) Wanita yang mempunyai siklus haid yang cukup teratur.
c) Pasangan dengan tidak dapat menggunakan metode lain.
d) Tidak keberatan jika terjadi kehamilan.

c. Kontraindikasi

a) Wanita yang mau mengamati tanda kesuburan
b) Wanita yang mempunyai siklus haid yang cukup teratur
c) Pasangan dengan tidak dapat menggunakan metode lain
d) Tidak keberatan jika terjadi kehamilan.



4. Metode lendir serviks

a. Definisi 
Metode lendir serviks adalah metode mengamati kualitas dan kuantitas lendir serviks setiap hari. Periode subur ditandai dengan lendir yang jernih, encer, dan licin. Metode lendir serviks yakni pengamatan dilakukan pada lendir serviks. Pengamatan lendir serviks dapat dilakukan dengan merasakan perubahan rasa pada vulva sepanjang hari dan melihat langsung lendir pada waktu tertentu. Menjelang ovulasi lendir ini akan mengandung banyak air (encer) sehingga mudah dilalui sperma. Setelah ovulasi lendir kembali menjadi lebih padat. Jika lendir mulai keluar atau bagi wanita yang mengalami keputihan (sering mengeluarkan lendir) lendir mengencer, bergumpal-gumpal dan lengket, hal ini menunjukan akan terjadi ovulasi. Sehingga senggama harus dihindari dengan menggunakan alat kontrasepsi. Pada puncak masa subur, yaitu menjelang dan pada saat ovulasi lendir akan keluar dalam jumlah lebih banyak menjadi transparan, encer dan bening seperti putih telur dan dapat ditarik diantara dua jari seperti benang. Tiga hari setelah puncak masa subur dapat dilakukan senggama tanpa alat kontrasepsi. Kelebihandari metode ini adalah mudah digunakan, tidak memerlukan biaya,  metode mukosa serviks merupakan metode keluarga berencana alami lain yang mengamati tanda-tanda kesuburan. Sedangkan kekurangannya yaitu Tidak efektif bila digunakan sendiri, sebaiknya dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain, Tidak cocok untuk wanitayang tidak menyukai menyentuh alat kelaminnya, Wanita yang memiliki infeksi saluran reproduksi  dapat mengaburkan tanda-tanda  kesuburan, Wanita yang menghasilkan sedikit lendir.  Efek sampingnya yaitu Persoalan timbul bila terjadi kegagalan/kehamilan.


b. Indikasi

a) Semua perempuan semasa reproduksi, baik siklus haid teratur maupun tidak teratur, tidak haid baik karena menyusui maupun pramenopause.
b) Semua perempuan dengan paritas berapa pun termasuk nulipara.
c) Perempuan kurus atau gemuk.
d) Perempuan yang merokok.
e) Perempuan dengan alasan kesehatan tertentu seperti hipertensi sedang, varises, dismenorea, sakit kepala sedang atau hebat, mioma uteri, endometritis, kista ovarii, anemia defisiensi besi, 
f) hepatitis virus, malaria, trombosis vena dalam, atau emboli paru.


c. Kontraindikasi 

a) Perempuan yang dari segi umur, paritas atau masalah kesehatannya membuat kehamilan menjadi suatu kondisi risiko tinggi.
b) Perempuan sebelum mendapat haid (menyusui, segera setelah abortus), kecuali MOB.
c) Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur, kecuali MOB
d) Perempuan yang pasangannya tidak mau bekerjasama (berpantang) selama waktu tertentu dalam siklus haid.



5. Sistem kelender

a. Definisi 
Metode kalender atau pantang berkala adalah cara / metode  kontrasepsi sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan tidak melakukan senggama atau hubungan seksual pada masa subur/ovulasi. Prinsip metode pantang berkala ini adalah tidak melakukan senggama pada masa subur yaitu pertengahan siklus haid atau ditandai dengan keluarnya lendir encer dari liang vagina. Untuk menghitung masa subur digunakan rumus siklus terpanjang dikurangi 11 hari dan siklus terpendek dikurangi 18 hari. Dua angka yang diperoleh merupakan range masa subur. Dalam jangka waktu subur tersebut harus pantang sanggama, dan diluarnya merupakan masa aman. Keuntungan dari metode ini adalah Metode kalender atau pantang berkala lebih sederhana, Dapat digunakan oleh setiap wanita yang sehat, Tidak membutuhkan alat atau pemeriksaan khusus, Tidak mengganggu pada saat berhubungan seksual, Tidak memerlukan biaya dan tempat pelayanan kontrasepsi, Tidak ada efek samping. Keterbatasan / kekurangan antara lain memerlukan kerjasama yang baik antara suami istri, Harus ada motivasi dan disiplin pasangan dalam menjalankannya, Pasangan suami istri tidak dapat melakukan hubungan seksual setiap saat, Pasangan suami istri harus tahu masa subur dan masa tidak subur,Harus mengamati sikus menstruasi minimal enam kali siklus, Siklus menstruasi yang tidak teratur (menjadi penghambat), Lebih efektif bila dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.

b. Indikasi

a) Semua perempuan semasa reproduksi, baik siklus haid teratur maupun tidak teratur, tidak haid baik karena menyusui maupun pramenopause. 
b) Semua perempuan dengan paritas berapa pun termasuk nulipara.
c) Perempuan dengan alasan kesehatan tertentu antara lain hipertensi sedang, varises, disminorea sakit kepala sedang atau hebat.

c. Kontraindikasi 

a) Perempuan dengan umur, paritas atau masalah kesehatan yang membuat kehamilan menjadi suatu kondisi resiko tinggi.
b) Perempuan sebelum mendapat haid(menyusui, segera setelah abortus).
c) Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur.


Alat Kontrasepsi Menggunakan Alat.


1. Kondom 



a. Kondom pria
Kondom untuk pria merupakan bahan karet atau lateks, poliuretan (plastik) atau bahan sejenis yang kuat, tipis, dan elastis.Benda tersebut ditarik menutupi penis yang sedang ereksi untuk menangkap semen selama ejakulasi untuk mencegah sperma masuk kedalam sperma. Kondom lateks dan poli uretan merupakan kondom yang efektif untuk mencegah penularan HIV dan mengerangi resiko penyakit menular seksual. Satu-satunya alasan kegagalan kontrasepsi adalah defek pada kondom itu sendiri. Defek yang dimaksud antara lain kelemahan bahan, yang dapat menyebabkan kondom robek akibat dorongan ejakulasi atau ada lubang yang sangat kecil, yang membuat kondom tidak efektif. Walaupun penggunaan kondom telah di gunakan secara luas, beberapa pasangan masih memiliki perasan negative terhadap kondom. Beberapa pasangan merasa kondom membuat sensasi terasa tumpul, beberapa yang lain merasa bahwa kondom menciptakan penghalang diantara mereka saat mereka menginginkan persaan utuh yang diperoleh selama hubungan seksualnya.
b. Kondom  wanita
Kondom terbuat dari lapisan  polyiretane tipis dengan cincin dalam yang fleksibel dan dapat  digerakkan pada ujung yang tertutup,  yang dimasukkan ke dalam vaginadan cincin kaku yang lebih besar pada ujung terbuka di bagian depan yang tetap berada diluar vagina dan melindungi introitus. Kondom wanita hanya memiliki 1 ukuran dan tidak perlu dipasang oleh pemberi pelayan kesehatan professional. Kondom tersebut harus di lumasi terlebih dahulu dan tersedia sekaligus dengan pelumas tambahan atau sediaan spermisida dapat digunakan bersama dengan kondom tersebut. Kondom untuk wanita tidak hanya mencegah kehamilan tetepi juga merupakan alat yang efektif melawan HIV, gonorea, klamidia dan trikomoniasis bila digunakan dengan benar. Apabila di bandingkan dengan kondom untuk pria,  kondom ini memungkinkan resiko yang lebih kecil terhadap PMS yang ditularkan lewat kulit, seperti  human papiloma virus ( HPV / kutil genetalia), virus herves simpleks (HSV) , sifilis dan kangkroid, karena alat kontrasepsi tersebut menutupi  sebagian besar area, yang sepadan dan menjadi penghalang antara indroitus, vulva, dan pangkal penis.


a) Definisi 

Kondom merupakan selubung/sarung karet yang terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), vilin (plastik) atau bahan alami (produksi hewan) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintesis yang tipis, berbentuk silindris, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti putting susu. Beberapa bahan telah ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektifitasnya (misalnya menambahkan spermisida) maupun sebagai aksesoris aktifitas seksual. Kondom menghalangi masuknya spermatozoa kedalam taktus genetalia interna vagina. Modifikasi tersebut dilakukan dalam hal : bentuk, warna, pelumas, bahan. Kondom adalah suatu karet tipis, berwarna atau tidak berwarna, dipakai untuk menutupi zakar yang tegang sebelum dimasukan ke dalam vagina sehingga mani tertampung didalamnya dan tidak masuk vagina, dengan demikian mencegah terjadinya pembuahan. Kondom yang menutupi zakar yang berguna untuk mencegah penularan penyakit menular (BKKBN.2008).

b) Cara Pemakaian Kondom
Kondom ada yang ujungnya biasa, ada pula yang ujungnya berputing mengeluarkan udara yaang ada, agar tersedia tempat bagi mani yang akan dikeluarkan gulungan kondom, sebelum persetubuhan lalu dipasang pada waktu zakar sedang tegang. Sesudah mani keluar, mani tertampung diujung kondom dan sewaktu zakar ditarik keluar, jagalah jangan sampai ada cairan yang tumpah. Peganglah kondom pada waktu menarik zakar keluar. Buanglah kondom setelah sekali pakai. (Prawirohardjo, Sarwono.2008)

c) Cara Kerja
Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma dijung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah kedalam saluran reproduksi perempuan.
Mencegah penularan mikroorganisme Q (MS termasuk HIV / AIDS ) dari satu pasangan ke pasangan yang lain (khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vilin)

d) Indikasi Pemakaian Kondom
6 minggu sesudah vasektomi C samapai mani tidak mengandung spermatozoa lagi, yang seperti dketahui dengan pemeriksaan laboratorium.
Sementara menunggu pemeriksaan AKDR.
Sementara sedang menunggu haid untuk pemakaian pil yang diminum.
Apabila kelupaan minum pil dalam jangka waktu lebih dari 36 jam.
Apabila diduga ada penyakit kelamin sementaramenunggu diagnosis yang pasti.
Bersamaan dengan pemakaian spermiside.
Dalam keadaan darurat, bila tidak ada kontrasepsi yang tersedia atau yang dipakai.
Sebagai cara yang dipilih oleh pasangan-pasangan tertentu.

e) Kontraindikasi 
1. Absolut
Pria dengan ereksi yang tidak baik.
Riwayat syok septik.
Tidak bertannggung jawab secara seksual.
Interupsi seksual foreplay menghalangi minat seksual.
Alergi terhadap karet atau lurikan pada patner seks.
2. Relatif
Interupsi seksual foreplay yang mengganggu ekspresi seksual.

f) Efektivitas
Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2 -12 kehamilan per 100 perempuan pertahun.
g) Keterbatasan
Efektifitas tidak terlalu tinggi
Cara pemakaian sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi
Agak mengganggu hungan seksual (mngurangi sentuhan langsung)
Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi
Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
Beberapa klien malu untuk membeli kondom ditempat umum
Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah

h) Keuntungan
Mencegah kehamilan
Memberi pelindungan terhadap penyakit-penyakit akibat hubungan seksual (PMS)
Dapat diandalkan, Relatif murah
Sederhana, ringan dan disposible
Tidak memerlukan pemeriksaan medis, supervisi atau pollow-up
Reversible
Pria ikut serta aktif dalam program KB

i) Efek Samping Dan Cara Penanggulangannya
1) Adanya rasa nyeri  dan panas akibat : alergi terhadap karet kondom (jarang didapati) dan lecet-lecet pada kemaluan pria akibat pemakaian tergesa-gesa / kurangnya pelicin.

Pengobatan :
a. Bila sebab alergi, hentikan pemakaian kondom, ganti dengan cara lain
b. Bila akibat kurang licinnya kondom, dianjurkan untuk memakai kondom yang mempunyai zat pelicin. Pemakainan kondom jangan terburu-buru
2) Kondom tidak terlihat terpasang pada kemaluan pria dan wanita merasa terdapat sesuatu dalam liang senggama. Bila terlalu lama dibiarkan kadang-kadang laing sengama wanita berbau busuk. Akibat air mani yang membahu karena adanya benda asing didalamnya dan terjadi infeksi
Penganggulangan dan pengobatan :
a. Keluarkan kondom dari liang senggama wanita dan bersihkan liang sengama wanita dengan antiseptik. Bila terdapat infeksi beri antibiotik
3) Kondom rusak atau diperkirakan bocor (sebelum digunakan)
Penanganan:
a. Buang dan pakai kondom baru atau pakai spermasida digabung kondom
b. Kondom bocor atau dicurigai ada curahan divaagina saat berhubungan
Penanganan :
a. Jika dicurigai ada kebocoran pertimbangkan pemberian Morning After pill (kontasepsi darurat : postinol atau mikroginon)


4) Mengurangi kenikmatan hubungan seksual
Penanganan :
a. Jika penurunan kepekatan tidaak bisa ditolelir biarpun dengan kondom yang lebih tipis anjurkan pemakaian metode lain (Prawirohardjo, Sarwono.2008)

2. Diafragma
a) Definisi
Diafragma merupakan penghalang mekanis antara sperma dan sel telur. Alat ini berbentuk kubah, terbuat dari jenis karet lateks yang lebih tebal dari pada kondom dan memiliki pegas logam fleksibel pada bingkai diagfragma pegas tersebut memungkinkan penekanan ketika diagfragma dimasukan sehingga diafragma dapat kembali kebentuk seperti semula dan mengikuti bentuk dalam jaringan vagina ketika ditempatkan didalam. Ketika berada dalam posisi yang benar ,dengan sisi kubah berada dibawah dan bingkai diagfragma menempel ketat pada dinding vagina anterior dan lateral, diagfragma secara keseluruhan dapat menutupi  serviks. Penghalang tersebut bila dikombinasikan dengan jelly atau dengan krim spermisida yang dioles mengelilingi bingkai diagfragma dan didalam kuba, dapat menolak sperma masuk kelubang serviks sehingga sperma tidak bertemu sel telur. Diafragma juga memberi perlindungan terhadap PMS, seperti klamidia dan ghonorea yang menyebabkan dysplasia serviks dan penyakit radang panggul. Diafragma tidak dapat melindungi wanita dari HIV . Saat ini ada 4 jenis Diafragma yang berbeda konstruksi pegas logam pada bingkainya serta lebar bingkai diafragma:
Pegas datar; pegas pada diafragma ini terbuat dari lapisan tipis baja stainless yang sangat ringan.
Pegas kumparan; pegas pada diafragma ini merupakan kumparan melingkar yang fleksibel dengan kekuatan sedang.
Pegas lengkung; pegas pada diafragma ini merupakan kombinasi pegas datar dan pegas kumparan .
Bingkai tutup lebar; tersedia pada bentuk pegas kumparan ataupun pegas lengkung.

b) Penggunaan diafragma dikontra indikasikan pada beberapa keadaan berikut :
Prolaps uterus yang parah (penurunan) (derajat kedua atau ketiga)
Sistokel (derajat dua atau tiga)
Antervensi atau retroversi uterus yang berat
Fistula vesikovagina atau rektro vagina
Alergi terhadap karet diagfragma atau terhadap sediaan spermisida yang terdapat didalam diagfragma.


3. Cervical Cap



Penutup serviks yang terbuat dari karet lateks dan berbentuk bundar kerucut, dengan cincin tebal yang sesuai dengan bentuk serviks , sehingga dapat melekat erat pada serviks, tetapi tidak menekan kedalam forniks serviko vaginal. Pada prinsipnya,  cervical cap tidak seperti diafragma yang menciptakan penghalang terhadap sperma dengan cara menutupi serviks dan juga menampung spermisida untuk mencegah kehamilan. Cara tersebut dapat mengurangi risiko penyakit menular seksual , tetapi tidak dapat melindungi terhadap HIV. Sejumlah kontraindikasi yang berkaitan dengan penggunaan cervical cap adalah sebagai berikut :  
a)      Hasil Pap smear baru-baru ini tidak normal
b)      Adanya keganasan uterus atau serviks
c)      Riwayat sindrom syok toksis
d)     Infeksi serviks atau vagina yang terjadi baru-baru ini
e)      Alergi terhadap lateks dan spermisida.

4. Pelindung Lea
a) Definisi 
Pelindung Lea merupakan alat yang menggunakan karet silikon dengan diameter 55 mm, dan hanya memiliki satu ukuran. Apabila wanita ingin menggunakannya , tidak diperlukan pengepasan. Apabila digunakan bersama spermisida, angka keberhasilannya jauh melebihi metode kontrapsesi lain.


5. FemCap



Alat ini sejenis  cervical cap yang terbuat dari karet silikon non-alergi . Alat ini dapat masuk kedalam serviks dan memiliki tepi yang luas (seperti topi pelaut) yang  menciptakan alur diantara kubah dan topi tersebut. Topi  penutup  melekatkan FemCap jauh lebih kecil,  tetapi kesulitan untuk melepasnya  jauh lebih besar  kendati alat ini  memiliki tali  pengikat untuk melepasnya. Memasukan dan mencabut FemCap selama hubungan seksual juga menjadi sebuah permasalah dan risiko kehamilan pun lebih besar.


6. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau IUD



a). Definisi
IUD adalah alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang dimasukkan ke dalam rongga rahim, yang harus diganti jika sudah digunakan selama periode tertentu. IUD merupakan   panjang. dimasukkan  ke  dalam  rahim  yang  bentuknya  bermacam-macam  terbuat  dari  plastik, plastik  yang  dililit  tembaga. Cara  kerja Yaitu  menghambat  kemampuan  sperma  untuk  masuk  ke  tubba  fallopi  dan  mempengaruhi  fertilitasi  sebelum  ovum  mencapai  kavum  uteri.
b). Indikasi 
Usia  reproduksi  (25 – 49 tahun).
Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka  panjang.
Menyusui yang menginginkan menggunakan  kontrasepsi.
Setelah  Abortus  dan  tidak  terlihat  adanya  infeksi
Resiko  rendah  dan  IMS (infeksi  menular  seksual)
Tidak  menghendaki  metode  hormonal.
c). Kontraindikasi
Sedang  hamil  atau  kemungkinan  hamil
Perdarahan  pervaginam  yang  tidak  diketahui  (sampai  dapat  di  evaluasi).
Sedang  menderita  infeksi  alat  genital  (Vaginitis  servisitif).
Ukuran  rongga  rahim  kurang  dari  5  cm dan tumor  jinak  rahim.
d). Efek samping
Terjadi  perdarahan  yang  lebih  banyak  dan  lebih  lama  pada masa  menstruasi.
Keluar  bercak-bercak  darah  (Spotting)  setelah  lama  2  hari  pemasangan.
Kram  atau  nyeri  selama  menstruasi.
Keputihan.




KONTRASEPSI HORMONAL

Kontrasepsi hormonal merupakan salah satu metode kontrasepsi yang paling efektif dan reversibel untuk mencegah terjadinya konsepsi (Baziad 2008). 
Kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi dimana estrogen dan progesteron memberikan umpan balik terhadap kelenjar hipofisis melalui hipotalamus sehingga terjadi hambatan terhadap folikel dan proses ovulasi (Manuaba, 2010).


Mekanisme Kerja Kontrasepsi Hormonal

Hormon estrogen dan progesteron memberikan umpan balik, terhadap kelenjar hipofisis melalui hipotalamus sehingga terjadi hambatan terhadap perkembangan folikel dan proses ovulasi. Melalui hipotalamus dan hipofisis, estrogen dapat menghambat pengeluaran Folicle Stimulating Hormone (FSH) sehingga perkembanagan dan kematangan Folicle De Graaf tidak terjadi. Disamping itu progesteron dapat menghambat pengeluaran Hormone Luteinizing (LH). Estrogen mempercepat peristaltik tuba sehingga hasil konsepsi mencapai uterus endometrium yang belum siap untuk menerima implantasi (Manuaba, 2010). 

Selama siklus tanpa kehamilan, kadar estrogen dan progesterone bervariasi dari hari ke hari. Bila salah satu hormon mencapai puncaknya, suatu mekanisme umpan balik (feedback) menyebabkan mula-mula hipotalamus kemudian kelenjar hypophyse mengirimkan isyarat-isyarat kepada ovarium untuk mengurangi sekresi dari hormon tersebut dan menambah sekresi dari hormon lainnya. Bila terjadi kehamilan, maka estrogen dan progesteron akan tetap dibuat bahkan dalam jumlah lebih banyak tetapi tanpa adanya puncak-puncak siklus, sehingga akan mencegah ovulasi selanjutnya. Estrogen bekerja secara primer untuk membantu pengaturan hormon realising factors of hipotalamus, membantu pertumbuhan dan pematangan dari ovum di dalam ovarium dan merangsang perkembangan endometrium. Progesteron bekerja secara primer menekan atau depresi dan melawan isyarat-isyarat dari hipotalamus dan mencegah pelepasan ovum yang terlalu dini atau prematur dari ovarium, serta juga merangsang perkembangan dari endometrium (Hartanto, 2002). 

Adapun efek samping akibat kelebihan hormon estrogen, efek samping yang sering terjadi yaitu rasa mual, retensi cairan, sakit kepala, nyeri pada payudara, dan fluor albus atau keputihan. Rasa mual kadang-kadang disertai muntah, diare, dan rasa perut kembung. Retensi cairan disebabkan oleh kurangnya pengeluaran air dan natrium, dan dapat meningkatkan berat badan. Sakit kepala disebabkan oleh retensi cairan. Kepada penderita pemberian garam perlu dikurangi dan dapat diberikan diuretik. kadang efek samping demikian mengganggu akseptor, sehingga hendak menghentikan kontrasepsi hormonal tersebut. Dalam kondisi tersebut, akseptor dianjurkan untuk melanjutkan kontrasepsi hormonal dengan kandungan hormon estrogen yang lebih rendah. Selain efek samping kelebihan hormon estrogen, hormon progesteron juga memiliki efek samping jika dalam dosis yang berlebihan dapat menyebabkan perdarahan tidak teratur, bertambahnya nafsu makan disertai bertambahnya berat badan, acne (jerawat), alopsia, kadang-kadang payudara mengecil, fluor albus (keputihan), hipomenorea. Fluor albus yang kadang-kadang ditemukan pada kontrasepsi hormonal dengan progesteron dalam dosis tinggi, disebabkan oleh meningkatnya infeksi dengan candida albicans (Wiknjosastro, 2007). 

Komponen estrogen menyebabkan mudah tersinggung, tegang, retensi air, dan garam, berat badan bertambah, menimbulkan nyeri kepala, perdarahan banyak saat menstruasi, meningkatkan pengeluaran leukorhea, dan menimbulkan perlunakan serviks. Komponen progesteron menyebabkan payudara tegang, acne (jerawat), kulit dan rambut kering, menstruasi berkurang, kaki dan tangan sering kram (Manuaba, 2010).

 Macam –Macam Alat Kontrasepsi Hormonal

1. Kontrasepsi Pil




a. Definisi

Pil oral akan menggantikan produksi normal estrogen dan progesteron oleh ovarium. Pil oral akan menekan hormon ovarium selama siklus haid yang normal, sehingga juga menekan releasingfactors di otak dan akhirnya mencegah ovulasi. Pemberian Pil Oral bukan hanya untuk mencegah ovulasi, tetapi juga menimbulkan gejala-gejala pseudo pregnancy (kehamilan palsu) seperti mual, muntah, payudara membesar, dan terasa nyeri (Hartanto, 2002).

b. Efektivitas
Efektivitas pada penggunaan yang sempurna adalah 99,5- 99,9% dan 97% (Handayani, 2010).
c. Jenis KB Pil menurut Sulistyawati (2013) yaitu:
Monofasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengamdung hormon aktif estrogen atau progestin, dalam dosisi yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif, jumlah dan porsi hormonnya konstan setiap hari.
Bifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen, progestin, dengan dua dosis berbeda 7 tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon bervariasi.
Trifasik: pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen atau progestin, dengan tiga dosis yang berbeda 7 tablet tanpa hormon aktif, dosis hormon bervariasi setiap hari.
d. Cara kerja KB Pil menurut Saifuddin (2010) yaitu:
Menekan ovulasi
Mencegah implantasi
Mengentalkan lendir serviks
Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi ovum akan terganggu.
Keuntungan KB Pil menurut Handayani (2010) yaitu:
a) Tidak mengganggu hubungan seksual
b) Siklus haid menjadi teratur (mencegah anemia)
c) Dapat digunakam sebagai metode jangka panjang
d) Dapat digunakan pada masa remaja hingga menopause
e) Mudah dihentikan setiap saat
f) Kesuburan cepat kembali setelah penggunaan pil dihentikan
g) Membantu mencegah: kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, acne, disminorhea.
e. Keterbatasan KB Pil menurut Sinclair (2010) yaitu:
Amenorhea
Perdarahan haid yang berat
Perdarahan diantara siklus haid
Depresi
Kenaikan berat badan
Mual dan muntah
Perubahan libido
Hipertensi
Jerawat
Nyeri tekan payudara
Pusing
Sakit kepala
Kesemutan dan baal bilateral ringan
Mencetuskan moniliasis
Pelumasan yang tidak mencukupi
Perubahan lemak
Disminorea
Kerusakan toleransi glukosa
Hipertrofi atau ekropi serviks
Perubahan visual
Infeksi pernafasan
Peningkatan episode sistitis
Perubahan fibroid uterus.



2. Kontrasepsi Suntik




a.  Efektivitas kontrasepsi Suntik.

Menurut Sulistyawati (2013), kedua jenis kontrasepsi suntik mempunyai efektivitas yang tinggi, dengan 30% kehamilan per 100 perempuan per tahun, jika penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan. DMPA maupun NET EN sangat efektif sebagai metode kontrasepsi. Kurang dari 1 per 100 wanita akan mengalami kehamilan dalam 1 tahun pemakaian DMPA dan 2 per 100 wanita per tahun pemakain NET EN (Hartanto, 2002).
b. Jenis kontrasepsi Suntik
Menurut Sulistyawati (2013), terdapat dua jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu :
a). Depo Mendroksi Progesteron (DMPA), mengandung 150 mg DMPA yang diberikan setiap tiga bulan dengan cara di suntik intramuscular (di daerah pantat).
b). Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat), mengandung 200 mg Noretindron Enantat, diberikan setiap dua bulan dengan cara di suntik intramuscular (di daerah pantat atau bokong).
c. Cara kerja kontrasepsi Suntik menurut Sulistyawati (2013) yaitu:
a).  Mencegah ovulasi
b). Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma
c). Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
d). Menghambat transportasi gamet oleh tuba falloppii.
d. Keuntungan kontrasepsi Suntik

Keuntungan pengguna KB suntik yaitu sangat efektif, pencegah kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada hubungan seksual, tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan pembekuan darah, tidak mempengaruhi ASI, efek samping sangat kecil, klien tidak perlu menyimpan obat suntik, dapat digunakan oleh perempuan usia lebih 35 tahun sampai perimenopause, membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik, menurunkan kejadian tumor jinak payudara, dan mencegah beberapa penyebab penyakit radang panggul (Sulistyawati, 2013).

e. Keterbatasan
Adapun keterbatasan dari kontrasepsi Suntik menurut Sulistyawati (2013) yaitu:
a). Gangguan haid
b). Leukorhea atau Keputihan
c). Galaktorea
d). Jerawat
f). Rambut Rontok
g). Perubahan Berat Badan


3. Kontrasepsi Implant





a) Profil kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:

1. Efektif 5 tahun untuk norplant, 3 tahun untuk Jedena, Indoplant,
atau Implan.
Nyaman
Dapat dipakai oleh semua ibu dalam usia reproduksi
Pemasangan dan pencabutan perlu pelatihan
Kesuburan segera kembali setelah implan dicabut
Efek samping utama berupa perdarahan tidak teratur, perdarahan bercak, dan amenorea
Aman dipakai pada masa laktasi.
b).  Jenis kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:
Norplant: terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm, dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 3,6 mg levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun.
Implanon: terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3- Keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
Jadena dan indoplant: terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg. Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

c). Cara kerja kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:
Lendir serviks menjadi kental
Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi
Mengurangi transportasi sperma
Menekan ovulasi.

d). Keuntungan kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu:

Daya guna tinggi
Perlindungan jangka panjang
Pengembalian tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
Tidak mengganggu dari kegiatan senggama
Tidak mengganggu ASI
Klien hanya kembali jika ada keluhan
Dapat dicabut sesuai dengan kebutuhan
Mengurangi nyeri haid
Mengurangi jumlah darah haid
Mengurangi dan memperbaiki anemia
Melindungi terjadinya kanker endometrium
Melindungi angka kejadian kelainan jinak payudara
Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul
Menurunkan kejadian endometriosis.

e). Keterbatasan kontrasepsi Implant menurut Saifuddin (2010) yaitu: Pada kebanyakan pasien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spooting), hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah haid, serta amenorhea.







KESIMPULAN

Pengertian dari KB yaitu tindakan yang membantu individu atau pasngan untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval kelahiran, mengontrol kartu keturunan dalam hubungan dengan umur pasanngan suami istri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga(Hartanto, 2003). Dalam pelaksanaan program KB biasanya digunakan alat kontrasepsi yang digunakan untuk mengatur /mengendalikan pertumbuhan penduduk khususnya di Indonesia. Pengertian dari kontrasepsi adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi yaitu bertemunya sel sperme dan ovum. Dalam pelayanan KB ada berbagaimacam cara untuk mencegah konsepsi salah satunya dengan menggunakan AKDR. Dalam penggunaan AKDR juga terdapat manfaat, keuntungan serta kerugian dari penggunaan AKDR tersebut. Masalah yang timbul dari penggunaan AKDR tersebut juga diharapkan bisa teratasi dengan beberapa cara antara lain dengan memperhatikan cara pemakaian yang benar, efek samping serta konseling bagi pengguna oleh tenaga kesehatan.


SARAN
1.      untuk pembaca harap konsultasikan dengan bidan atau dokter spesialis OBGYN supaya tahu jenis kb apa yang cocok
2.  jangan disalahgunakan penggunaan KB



DAFTAR PUSTAKA

Hanafi Hartanto.2007.Keluarga Berencana dan Kontrasepsi.Jakarta : YBPSP
http://makravela.blogspot.co.id/2016/05/kontrasepsi-mantap.html diakses tanggal 28 agustus 2016

Ida Ayu Chandranika.2010.Pedoman Penaganan Efek Samping / komplikasi Kontraepsi. Jakarta : YBPSP
Sarwono Prawiro hardjo. 2008. Buku panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta: YBPSP

Sarwono Prawirohardjo.2008.Informasi Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta: BBKBN
Prawihardjo, Sarwono. 2006. Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi. Jakarta : yayasan bina pustaka

Prawihardjo, Sarwono. 1999. Ilmu kandungan, edisi kedua cetakan ketiga. Jakarta :  yayasan bina pustaka

Prawihardjo, Sarwono. 2002. Ilmu kebidanan, edisi ketiga cetakan keenam. Jakarta : yayasan bina pustaka




Minggu, 16 Agustus 2020

Literatur Review

 TOPIK 12 : Determinants Of Broncho-pneumonia In Children

 

Nama Mahasiswa

Hadi Alwani

NPM

4111181103

Pembimbing 

Rr. Desire Meria N, dr, MKK, SpOk


 

Penulis Jurnal

Fei Wang (Departemen Darurat, Rumah Sakit Pusat Distrik Jiading yang Berafiliasi dengan Universitas Shanghai Ilmu Kedokteran & Kesehatan, No.1, Chengbei Rd, Jiading, Shanghai 201800, Cina)

Zezhong Yao (Departemen pediatri, Cabang Minhang, Rumah Sakit Zhongshan,Universitas Fudan, No.170 Xinsong Rd, Minhang, Shanghai 201199, Cina)

Cun You

(Departemen Pediatri,Cabang Minhang,Rumah Sakit Zhongshan,Universitas Fudan,Shanghai, Cina)

Guo Ran

(Departemen Anestesiologi, Mata,Telinga, Hidung, dan Tenggorokan  Rumah Sakit, Universitas Fudan, Shanghai, Cina)

Xiao Wu 

(Emergency Department, Jiading District Central Hospital Affiliated Shanghai University of Medicine and Health Sciences, Shanghai, China )

Yu Wang
Hua Tian

(Jiuting Town Community Healthcare Center
of Songjiang District, Shanghai, China )

Jiabao Fan 

(Department of Clinical Laboratory, Minhang Branch, Zhongshan Hospital, Fudan University, Shanghai, China )

 

 

 

 

Judul jurnal

Tingkat Imunoglobulin E tinggi dikaitkan dengan peningkatan penerimaan pada anak dengan Bronkopneumonia

Halaman jurnal

            

9 Halaman


Therapeutic Advances in Respiratory Disease

Ther Adv Respir Dis  2019, Vol. 13: 1–9DttOpsI::/1o0.r11170.711/77/1753466619879832 1753466619879832  © The Author(s), 2019.                        Article reuse guidelines: sagepub.com/journals- permissions

 

Tujuan jurnal

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan antara IgE dan tingkat penerimaan kembali terkait bronkopneumonia dalam 12 bulan pada anak-anak.

Teori 

Bronkopneumonia, juga dikenal sebagai lobus pneu-monia, Immunoglobulin E (IgE) diproduksi oleh sel plasma dalam lamina propria nasofaring, amandel, bronkus, dan mukosa gastro-testinal dan memediasi alergi tipe I, seperti asma bronkial, dan rinitis,  dan terkait dengan prevalensi infeksi saluran napas bawah. Anak-anak dengan asma dan sinusitis kronis memiliki peningkatan risiko broncho-pneumonia dan pneumonia yang signifikan, menunjukkan bahwa kadar IgE dapat dikaitkan dengan terjadinya bronkopneumonia.

 

 

 

 

Metode 

Populasi penelitian

 

Populasi penelitian mengambil dari pasien anak anak bronchopneumo-nia yang dirawat di rumah sakit antara 1 Januari 2015 dan 31 Desember 2016 di Cabang Minhang, Rumah Sakit Zhongshan, Universitas Fudan, Shanghai, Cina. Diagnosis broncho-pneumonia biasanya didasarkan pada fitur klinis dan didukung oleh radiografi dada:

·      jika batuk berlangsung lebih dari 1 minggu, cenderung kambuh, atau disertai dengan demam, atau mendengarkan dada menunjukkan suara napas yang tidak normal, seperti kresek yang menunjukkan cairan di paru-paru;

 

·      infeksi saluran pernapasan bagian bawah biasanya secara radiologis tampak sebagai bronkopneumonia multifokal atau pneumonia lobular. Asma didiagnosis sesuai dengan pedoman 2016 untuk diagnosis dan manajemen asma yang optimal pada anak-anak.

 

Desain Penelitian: Population Based menggunakan studi kasus control. Retrospektif

Tempat penelitian: Cabang Minhang, Rumah Sakit Zhongshan, Universitas Fudan, Shanghai, Cina

Durasi: 2 tahun (1 januari 2015-31 desember 2016)

Bagaimana cara Perekrutan nya : Mengumpulkan data demografis; jumlah rawat inap dalam 12 bulan pertama indeks rawat inap; tanggal dan hasil tes darah laboratorium rawat inap dari catatan elektronik rumah sakit. Penerimaan kembali untuk bronchopneu-monia dalam 12 bulan pertama dari indeks pitosifikasi diidentifikasi dalam database rumah sakit atau tindak lanjut telepon. Data tambahan diekstraksi secara manual termasuk riwayat keluarga alergi, komorbiditas, dan waktu dari pulang ke penerimaan kembali. Komorbiditas, termasuk asma bronkial, agranulositosis, anemia, dan otitis media akut (AOM), didiagnosis selama rawat inap indeks atau sebelumnya.

 

tidak ada keterangan mengenai informed consent pada pasien

Subjek dan metode: control

 

 

 

 

Metode pengambian sampel

Random sampling

Kriteria inklusi adalah:

a.      pasien berusia antara 1 dan 12;

 

b.     diagnosa kepulangan pertama didaftarkan sebagai 'bronchopneumonia' atau 'lobular pneumonia' dalam catatan medis elektronik rumah sakit; 

c.     anak-anak yang selamat dari indeks rawat inap. 

Kriteria eksklusi adalah: 

(a). anak-anak yang orang tuanya atau wali menolak perawatan reguler untuk anak-anak atau meminta anak-anak dipulangkan dari rumah sakit sebelumnya; 

(b). anak-anak dengan catatan medis yang tidak lengkap.

 

Ada 4 pengambilan sampel

 

1.     Tes biokimia darah dan penandaan infeksi dalam darah vena perifer dideteksi dalam 24 jam, menggunakan penganalisa hematologi otomatis Sysmex xs-800i (SYSMEX Corp.)

2.     total bilirubin dan ala-sembilan aminotransferase (ALT). diperiksa menggunakan penganalisa biokimia otomatis Vitros350  

 

3.     Sensitivitas tinggi protein C-reaktif (hs-CRP) ditentukan dengan menggunakan avidin-biotin-horseradish peroxidase complex enzyme-linked immunosorbent assay (ABC-ELISA)

4.     Kadar IgE diukur menggunakan alat analisa protein spesifik IMMAGE800 (Beckman Coulter, 

 

Kisaran IgE normal di rumah sakit ditetapkan pada 165 IU / ml.

 

 

 

 

 

 

 

Berikut merupakan penjelasan mengenai pengambilan sampel pada studi ini:

1.Total dari 1561 anak anak dengan bronkopneumonia dirawat di rumah sakit antara 1 Januari 2015 dan 31 Desember 2016. 

2.Sebanyak 233 anak-anak, berusia di bawah 1 tahun atau lebih dari 12 tahun dikeluarkan dari analisis

3. a. 229 anak-anak juga dikeluarkan karena sebab lain, 

   b. 1099 anak dimasukkan dalam analisis. 

4. Secara total, 125 (11,4%) anak-anak diterima untuk bronchopneumonia dalam 12 bulan pertama dari indeks rawat inap. 

5.Dalam 125 anak yang diterima kembali, median waktu untuk pertama

Hasil Penelitian

Izin dok table nya di bawah

 

Analisis multivariat: analisis 

 

Analisis regresi logistik multivariat Analisis

1.     regresi logistik multivariat menunjukkan bahwa kadar IgE abnormal adalah risiko yang signifikan untuk penerimaan kembali dalam 12 bulan dibandingkan kadar IgE normal (disesuaikan OR 1,781, 95% CI 1.209–2.624, p = 0,004;)

p = 0,004 sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien bronkopneumoni

2.     Dibandingkan dengan anak-anak yang kadar IgE-nya berada di kuartil pertama, anak-anak yang kadar IgE-nya ada di kuartil ketiga memiliki risiko yang lebih tinggi secara signifikan untuk penerimaan kembali 12 bulan (OR yang disesuaikan 1.922 dan 2.149, 95% CI 1.078-3.424 dan 1.214-3.802, p = 0,027 dan 0,009, masing-masing). Dibandingkan dengan mereka yang memiliki kadar IgE

p = 0,027 sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien bronkopneumoni

p= 0,009 sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien bronkopneumoni

3.     normal, anak-anak yang kadar IgE-nya lebih dari tiga kali UNL memiliki risiko lebih tinggi untuk masuk kembali (disesuaikan OR 2,037, 95% CI 1,172-3,540, p = 0,012).

p = 0,012 sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien bronkopneumoni

4.     Pada saat yang sama, risiko penerimaan kembali secara signifikan lebih tinggi pada anak-anak dengan IgE abnormal dan dengan asma bronkial dibandingkan pada anak-anak dengan kadar IgE normal dan tanpa asma bronkial (disesuaikan OR 2,548 dan 1,918, 95% CI 1,490-4,358 dan 1,218– 3.020, p = masing-masing 0,001 dan 0,005).

P=0,001 sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien bronkopneumoni

P=0,005  sangat mempengaruhi tingkat kesembuhan pasien bronkopneumoni

 

Analisis Kaplan-Meier 

menunjukkan bahwa pasien dengan IgE abnormal memiliki risiko secara signifikan lebih tinggi untuk masuk kembali 12 bulan dibandingkan dengan mereka yang normal

 

 

Kesimpulan Jurnal

Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar IgE sangat terkait dengan rawat inap berulang dalam 12 bulan pertama indeks rawat inap pada anak-anak berusia di atas 1 tahun dengan bronchopneu-monia dan dapat berfungsi sebagai prediktor rawat inap berulang pada kelompok anak-anak ini. 

 

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat memberikan dasar baru untuk klasifikasi fenotipik anak-anak dengan bronkopneumonia. Oleh karena itu, studi masa depan harus fokus pada mekanisme patofisiologis anak-anak dengan tingkat IgE yang tinggi, dan apakah intervensi anak-anak tersebut dapat mengurangi kejadian rawat inap berulang.

 

 

Perbedaan dan persamaan dengan penelitian skripsi

(tidak usah diisi dan dicantumkan, hanya saat membuat skripsi)

 

                                                                                                                                                                              3


Kemajuan Terapi pada Penyakit Pernafasan 13

 

Tabel 1. Demografi dan karakteristik dasar pasien.

 

Variabel

Semua (n = 1099)

Tidak dibaca

Pendaftaran kembali

hal

 

 

 

 

(n = 974)

(n = 125)

 

 

 

 

 

 

Laki-laki, n (%)

593 (54.0)

528 (54.2)

65 (52.0)

0,641

Usia rata-rata, tahun (IQR)

4 (3–6)

4 (2–6)

4

(3–6)

0,078

Dengan asuransi kesehatan, n (%)

1008 (91.7)

896 (92.0)

112 (89.6)

0,361

Riwayat alergi keluarga, n (%)

 

 

 

 

 

 

Iya

85

(7.7)

73 (7.5)

12 (9,6)

0,407

Komorbiditas, n (%)

 

 

 

 

 

 

Asma bronkial

232 (21.1)

194 (19.9)

38 (34.0)

0,007

Rinitis alergi

39

(3.5)

32 (3.3)

7

(5.6)

0,196

Agranulositosis

28

(2.5)

25 (2.6)

3

(2.4)

1.000

Anemia

6 (0,5)

5 (0,5)

1

(0.8)

0,516

AOM

10

(0,9)

9 (0,9)

1

(0.8)

1.000

Temuan laboratorium

 

 

 

 

 

 

WBC (rata-rata ± SD, 109/ l)

7.49 ± 2.95

7,5 ± 3,0

7.2 ± 2.8

0,406

HGB (rata-rata ± SD, g / l)

124,3 ± 10,0

124,6 ± 9,5

123.2 ± 11.5

0,159

Trombosit (rata-rata ± SD, 109/ l)

339.5 ± 102.3

343.5 ± 103.7

327.1 ± 99.3

0,152

  Median hs-CRP (IQR), g / l

4.2 (2.9–5.9)

4.2 (2.8-5.8)

5.0 (3.5–7.0)

0,146

  Median total bilirubin (IQR), mmol / l

5.1 (4.0–6.5)

5.1 (4.0–6.5)

5.4 (4.2–6.7)

0,112

  Median ALT (IQR), U / l

13

(11–16)

13 (11–16)

13 (11-15,5)

0,592

  Median IgE (IQR), IU / ml

95.8 (32.3–250)

87.6 (30.6–234)

144 (46–387)

<0,001

Waktu rawat inap (rata-rata ± SD, hari)

8.1 ± 2.4

8.0 ± 2.3

8.8 ± 3.1

<0,001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ALT, alanine aminotransferase; OMA, otitis media akut; HGB, hemoglobin; hs-CRP, protein C-reaktif sensitivitas tinggi; IgE, imunoglobulin E; IQR, rentang interkuartil; SD, standar deviasi; WBC, jumlah sel darah putih.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                                                                              5


Kemajuan Terapi pada Penyakit Pernafasan 13

 

Meja 2. Analisis regresi logistik hubungan antara tingkat IgE dan penerimaan kembali.

 

Variabel

 

Mentah

 

 

 

 

Disesuaikan*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

n

 

ATAU

95% CI

 

hal

 

ATAU

95% CI

 

hal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lg (IgE)

 

2.008

1.461

2.760

<0,001

1.876

1.354

2.600

<0,001

IgE (IU / ml)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

> 165

381

1.948

1.338

2.835

<0,001

1.781

1.209

2.624

0,004

165

718

 

Ref

 

 

 

 

Ref

 

 

 

IgE (IU / ml)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

251

275

2.372

1.356

4.151

0,002

2.149

1.214

3.802

0,009

95–25

274

1.936

1.090

3.439

0,024

1.922

1.078

3.424

0,027

32.3–95

274

1.342

0,730

2.466

0,343

1.364

0,741

2.511

0,319

<32.3

276

 

Ref

 

 

 

 

Ref

 

 

 

IgE (IU / ml)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

> 495 (3 × UNL)

118

2.342

1.379

3.977

0,002

2.037

1.172

3.540

0,012

330–495 (2 × UNL)

109

1.758

0,975

3.169

0,061

1.623

0,893

2.950

0,112

165–330 (1 × UNL)

154

1.794

1.075

2.994

0,025

1.712

1.022

2.869

0,041

165

718

 

Ref

 

 

 

 

Ref

 

 

 

IgE (IU / ml)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

> 165 dan dengan BA

127

2.624

1.544

4.458

<0,001

2.548

1.490

4.358

0,001

> 165 dan tanpa BA

254

1.920

1.221

3.020

0,005

1.918

1.218

3.020

0,005

165 dan dengan BA

105

1.732

0,920

3.261

0,089

1.731

0,917

3.264

0,090

165 dan tanpa BA

613

 

Ref

 

 

 

 

Ref

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

* Disesuaikan: jenis kelamin, usia, atau BA.

 

BA, asma bronkial; CI, interval kepercayaan; IgE, imunoglobulin E; Lg (IgE), log10IgE; ATAU, rasio odds; Referensi, referensi; UNL, batas normal atas.


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Bagan alur studi.

 

IgE, imunoglobulin E.