Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 September 2023

Kumpulan Puisi Karya Taufiq Ismail Lengkap

 



Kumpulan Puisi Karya Taufiq Ismail 





KUMPULAN PUISI KARYA

TAUFIQ ISMAIL


1. LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK

Oleh :

Taufiq Ismail

 Sebuah Lasykar truk

Masuk kota Salatiga

Mereka menyanyikan  lagu

‘Sudah Bebas Negeri Kita’

Di jalan Tuntang seorang anak kecil

Empat tahun terjaga :

‘Ibu, akan pulangkah Bapa,

dan membawakan pestol buat saya ?’

(1963)


2.BAGAIMANA     KALAU

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,

tapi buah alpukat,

Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,

Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,

dan kepada Koes Plus kita beri mandat,

Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,

dan ibukota Indonesia Monaco,

Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,

salju turun di Gunung Sahari,

Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin

dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,

Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia

dibayar dengan pementasan Rendra,

Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,

dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,

Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di

kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki

pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara

percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan

margasatwa Afrika,

Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil

mempertimbangkan protes itu,

Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita

pelihara ternak sebagai pengganti

Bagaimana kalau sampai waktunya

kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

(1971)


3. BAYI LAHIR BULAN MEI 1998

Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga

Suaranya keras, menangis berhiba-hiba

Begitu lahir ditating tangan bidannya

Belum kering darah dan air ketubannya

Langsung dia memikul hutang di bahunya

Rupiah sepuluh juta

Kalau dia jadi petani di desa

Dia akan mensubsidi harga beras orang kota

Kalau dia jadi orang kota

Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya

Kalau dia bayar pajak

Pajak itu mungkin jadi peluru runcing

Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing

Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga

Mulutmu belum selesai bicara

Kau pasti dikencinginya.

1998



4. BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN


Pada tahun keenam

Setelah di kota kami didirikan

Sebuah Musium Perjuangan

Datanglah seorang lelaki setengah baya

Berkunjung dari luar kota

Pada sore bulan November berhujan

dan menulis kesannya di buku tamu

Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan

Bertahun-tahun aku rindu

Untuk berkunjung kemari

Dari tempatku jauh sekali

Bukan sekedar mengenang kembali

Hari tembak-menembak dan malam penyergapan

Di daerah ini

Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan

Dan potret-potret para pahlawan

Mengusap-usap karaben tua

Baby mortir buatan sendiri

Atau menghitung-hitung satyalencana

Dan selalu mempercakapkannya

Alangkah sukarnya bagiku

Dari tempatku kini, yang begitu jauh

Untuk datang seperti saat ini

Dengan jasad berbasah-basah

Dalam gerimis bulan November

Datang sore ini, menghayati musium yang lengang

Sendiri

Menghidupkan diriku kembali

Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya

Di waktu kebebasan adalah impian keabadian

Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan

Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan

Begitulah aku berjalan pelan-pelan

Dalam musium ini yang lengang

Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga

Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur

berbendera

Maket pertempuran

Dan penyergapan di jalan

Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam

Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt

PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu

Gambar lasykar yang kurus-kurus

Dan kuberi tabik khidmat dan diam

Pada gambar Pak Dirman

Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali

Ke ruangan yang sepi dan dalam

Jendela musium dipukul angin dan hujan

Kain pintu dan tingkap bergetaran

Di pucuk-pucuk cemara halaman

Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan

Deru konvoi menjalari lembah

Regu di bukit atas, menahan nafas

Di depan tugu dalam musium ini

Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah

Aku berdiri dan menatap nama-nama

Dipahat di sana dalam keping-keping alumina

Mereka yang telah tewas

Dalam perang kemerdekaan

Dan setinggi pundak jendela

Kubaca namaku disana…..


5. GUGUR DALAM PENCEGATAN

TAHUN EMPATPULUH-DELAPAN


Demikian cerita kakek penjaga

Tentang pengunjung lelaki setengah baya

Berkemeja dril lusuh, dari luar kota

Matanya memandang jauh, tubuh amat kurusnya

Datang ke musium perjuangan

Pada suatu sore yang sepi

Ketika hujan rinai tetes-tetes di jendela

Dan angin mengibarkan tirai serta pucuk-pucuk cemara

Lelaki itu menulis kesannya di buku-tamu

Buku tahun-keenam, halaman seratus-delapan

Dan sebelum dia pergi

Menyalami dulu kakek Aki

Dengan tangannya yang dingin aneh

Setelah ke tugu nama-nama dia menoleh

Lalu keluarlah dia, agak terseret berjalan

Ke tengah gerimis di pekarangan

Tetapi sebelum ke pagar halaman

Lelaki itu tiba-tiba menghilang





6. DARI CATATAN SEORANG DEMONSTRAN

Inilah peperangan

Tanpa jenderal, tanpa senapan

Pada hari-hari yang mendung

Bahkan tanpa harapan

Di sinilah keberanian diuji

Kebenaran dicoba dihancurkn

Pada hari-hari berkabung

Di depan menghadang ribuan lawan

1966


7. DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN

“Ibu telah merelakan kalian

Untuk berangkat demonstrasi

Karena kalian pergi menyempurnakan

Kemerdekaan negeri ini”

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas airmata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu

Pergilah pergi, setiap pagi

Setelah dahi dan pipi kalian

Ibu ciumi

Mungkin ini pelukan penghabisan

(Ibu itu menyeka sudut matanya)

Tapi ingatlah, sekali lagi

Jika logam itu memang memuat nama kalian

(Ibu itu tersedu sedan)

Ibu relakan

Tapi jangan di saat terakhir

Kau teriakkan kebencian

Atau dendam kesumat

Pada seseorang

Walapun betapa zalimnya

Orang itu

Niatkanlah menegakkan kalimah Allah

Di atas bumi kita ini

Sebelum kalian melangkah setiap pagi

Sunyi dari dendam dan kebencian

Kemudian lafazkan kesaksian pada Tuhan

Serta rasul kita yang tercinta

pergilah pergi

Iwan, Ida dan Hadi

Pergilah pergi

Pagi ini

(Mereka telah berpamitan dengan ibu dicinta

Beberapa saat tangannya meraba rambut mereka

Dan berangkatlah mereka bertiga

Tanpa menoleh lagi, tanpa kata-kata)

1966


 8. DOA

Tuhan kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

Bertahun-tahun membangun kultus ini

Dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

Tuhan kami

Telah terlalu mudah kami

Menggunakan AsmaMu

Bertahun di negeri ini

Semoga Kau rela menerima kembali

Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

1966




9. JALAN SEGARA

Di sinilah penembakan

Kepengecutan

Dilakukan

Ketika pawai bergerak

Dalam panas matahari

Dan pelor pembayar pajak

Negeri ini

Ditembuskan ke pungung

Anak-anaknya sendiri

1966 

10. JAWABAN DARI POS TERDEPAN


Kami telah menerima surat saudara

Dan sangat paham akan isinya

Tetapi tentang pasal penyerahan

Itu adalah suatu penghinaan

Konvoi sejam lamanya menderu

Di kota. Api kavaleri memancar-mancar

Di roda-rantai dan aspal

Angin meniup dalam panas dan abu

Abu baja. Nyala yang menggeletar-geletar

Sepanjang suara

Kami yang bertahan

Beberapa ratus meter jauhnya

Bukanlah serdadu-serdadu bayaran

Atau terpaksa berperang karena pemerintahan

Kebebasan manusia di atas buminya

Adalah penyebab hadir pasukan ini

Dan pasukan-pasukan lainnya

Impian akan harga kemerdekaan manusia

mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur

gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT

sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran

dalam pasukan

di pos terdepan ini

Terik dan lengang dipandang tak bertuan

Abu naik perlahan dari bumi

Bumi yang telah diungsikan

Guruh dari jauh, konvoi menderu

Suara panser dan  tank-tank kecil

Mengacukan senjata-senjata baru

Kami tidak punya batalion paratroop

Cadangan sulfa, apalagi mustang dan lapis-baja

Kami hanya memiliki karaben-karaben tua

Bahkan bambu pedesaan, ujungnya diruncingkan

Pasukan ini tak bicara dalam bahasa akademi militer

Tidak juga memiliki pengalaman perang dunia

Tetapi untuk kecintaan akan kebebasan manusia

Di atas buminya

Pasukan ini sudah menetapkan harganya

Sebentar lagi malampun akan turun

membawa kesepian ajal adalam gurun

Tidakkah engkau bisa menempatkan diri

sebentar, di tempat kami

Memikirkan bahwa ibumu tua diungsikan

tersaruk-saruk berjalan kaki

Setelah rumah-rumah di kampungmu dibakari

setelah adik kandungmu ditembak mati

Adakah demi lain, yang mengatasi

demi kemanusiaan ?

Adakah ?

Di seberang sini berjaga pengawalan

Tanpa gardu dan kemah, berbaju lusuh dalam semak

Dialah yang terdepan dengan sepucuk Lee & Field

Dialah huruf pertama dari Republik





11. KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS,

LALU KALIAN PAKSA KAMI

MASUK MASA PENJAJAHAN BARU,

Kata Si Toni

Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri

Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan

Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami

Sejak lahir sampai dewasa ini

Jadi sangat tepergantung pada budaya

Meminjam uang ke mancanegara

Sudah satu keturunan jangka waktunya

Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula

Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni

Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi

Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini

Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi

Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia

Kita gadaikan sikap bersahaja kita

Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta

Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka

Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita

Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia

Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama

Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia

Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi

Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri

Sambil kepala kita dimakan begini

Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti

Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi

Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni

Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama

Menggigit dan mengunyah teratur berirama

Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi

Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini

Bagai ikan kekurangan air dan zat asam

Beratus juta kita menggelepar menggelinjang

Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang

Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya

Meminjam kepeng ke mancanegara

Dari membuat peniti dua senti

Sampai membangun kilang gas bumi

Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi

Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi

Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri

Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis

Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis

Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa

Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa

Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya

Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami

Kalian lah yang membuat kami jadi begini

Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi

Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini

1998


12. KEMBALIKAN INDONESIA PADAKU

kepada Kang Ilen

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,

yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola  yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong siang malam

dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 wat,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan tenggelam

lantaran berat bebannya kemudian angsa-angsa berenang-renang di atasnya,

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 wat,

sebagian putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih yang berenang-renang

sambil main pingpong di atas pulau Jawa yang tenggelam

dan membawa seratus juta bola lampu 15 wat ke dasar lautan,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

karena seratus juta penduduknya,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian,

Kembalikan

Indonesia

padaku

Paris, 1971

13. KETIKA BURUNG MERPATI SORE MELAYANG

Langit akhlak telah roboh di atas negeri

Karena akhlak roboh, hukum tak tegak berdiri

Karena hukum tak tegak, semua jadi begini

Negeriku sesak adegan tipu-menipu

Bergerak ke kiri, dengan maling kebentur aku

Bergerak ke kanan, dengan perampok ketabrak aku

Bergerak ke belakang, dengan pencopet kesandung aku

Bergerak ke depan, dengan penipu ketanggor aku

Bergerak ke atas, di kaki pemeras tergilas aku

Kapal laut bertenggelaman, kapal udara berjatuhan

Gempa bumi, banjir, tanah longsor dan orang kelaparan

Kemarau panjang, kebakaran hutan berbulan-bulan

Jutaan hektar jadi jerebu abu-abu berkepulan

Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Beribu pencari nafkah dengan kapal dipulangkan

Penyakit kelamin meruyak tak tersembuhkan

Penyakit nyamuk membunuh bagai ejekan

Berjuta belalang menyerang lahan pertanian

Bumiku demam berat, menggigilkan air lautan

Lalu berceceran darah, berkepulan asap dan berkobaran api

Empat syuhada melesat ke langit dari bumi Trisakti

Gemuruh langkah, simaklah, di seluruh negeri

Beribu bangunan roboh, dijarah dalam huru-hara ini

Dengar jeritan beratus orang berlarian dikunyah api

Mereka hangus-arang, siapa dapat mengenal lagi

Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Kukenangkan tahun ‘47 lama aku jalan di Ambarawa dan Salatiga

Balik kujalani Clash I di Jawa, Clash II di Bukittinggi

Kuingat-ingat pemboman Sekutu dan Belanda seantero negeri

Seluruh korban empat tahun revolusi

Dengan Mei ‘98 jauh beda, jauh kalah ngeri

Aku termangu mengenang ini

Bumiku sakit berat, dengarlah angin menangis sendiri

Ada burung merpati sore melayang

Adakah desingnya kau dengar sekarang

Ke daun telingaku, jari Tuhan memberi jentikan

Ke ulu hatiku, ngilu tertikam cobaan

Di aorta jantungku, musibah bersimbah darah

Di cabang tangkai paru-paruku, kutuk mencekik nafasku

Tapi apakah sah sudah, ini murkaMu?

Ada burung merpati sore melayang

Adakah desingnya kau dengar sekarang

1998





14. KETIKA INDONESIA DIHORMATI DUNIA

-Taufiq Ismail-

Dengan rasa rindu kukenang pemilihan umum setengah

abad yang lewat

Dengan rasa kangen pemilihan umum pertama itu

kucatat

Peristiwa itu berlangsung tepatnya di tahun lima

puluh lima

Ketika itu sebagai bangsa kita baru sepuluh tahun

merdeka

Itulah pemilihan umum yang paling indah dalam

sejarah bangsa

Pemilihan umum pertama, yang sangat bersih dalam

sejarah kita

Waktu itu tak dikenal singkatan jurdil, istilah

jujur dan adil

Jujur dan adil tak diucapkan, jujur dan adil cuma

dilaksanakan

Waktu itu tak dikenal istilah pesta demokrasi

Pesta demokrasi tak dilisankan, pesta demokrasi cuma

dilangsungkan

Pesta yang bermakna kegembiraan bersama

Demokrasi yang berarti menghargai pendapat berbeda

Pada waktu itu tak ada huru-hara yang menegangkan

Pada waktu itu tidak ada setetes pun darah

ditumpahkan

Pada waktu itu tidak ada satu nyawa melayang

Pada waktu itu tidak sebuah mobil pun digulingkan

lalu dibakar

Pada waktu itu tidak sebuah pun bangunan disulut api

berkobar

Pada waktu itu tidak ada suap-menyuap, tak terdengar

sogok-sogokan

Pada waktu itu dalam penghitungan suara, tak ada

kecurangan

Itulah masa, ketika Indonesia dihormati dunia

Sebagai pribadi, wajah kita simpatik berhias

senyuman

Sebagai bangsa, kita dikenal santun dan sopan

Sebagai massa kita jauh dari kebringasan, jauh dari

keganasan

Tapi enam belas tahun kemudian, dalam 7 pemilu

berturutan

Untuk sejumlah kursi, 50 kali 50 sentimeter persegi

dalam ukuran

Rakyat dihasut untuk berteriak, bendera partai

mereka kibarkan

Rasa bersaing yang sehat berubah jadi rasa dendam

dikobarkan

Kemudian diacungkan tinju, naiklah darah, lalu

berkelahi dan

berbunuhan

Anak bangsa tewas ratusan, mobil dan bangunan

dibakar puluhan

Anak bangsa muda-muda usia, satu-satu ketemu di

jalan, mereka sopan-

sopan

Tapi bila mereka sudah puluhan apalagi ratusan di

lapangan

Pawai keliling kota, berdiri di atap kendaraan,

melanggar semua aturan

Di kepala terikat bandana, kaus oblong disablon, di

tangan bendera

berkibaran

Meneriak-neriakkan tanda seru dalam sepuluh kalimat

semboyan dan

slogan

Berubah mereka jadi beringas dan siap mengamuk,

melakukan kekerasan

Batu berlayangan, api disulutkan, pentungan

diayunkan

Dalam huru-hara yang malahan mungkin, pesanan

Antara rasa rindu dan malu puisi ini kutuliskan

Rindu pada pemilu yang bersih dan indah, pernah

kurasakan

Malu pada diri sendiri, tak mampu merubah perilaku

Bangsaku.

2004




15. KETIKA SEBAGAI KAKEK DI TAHUN 2040,

KAU MENJAWAB PERTANYAAN CUCUMU

Cucu kau tahu, kau menginap di DPR bulan Mei itu

Bersama beberapa ribu kawanmu

Marah, serak berteriak dan mengepalkan tinju

Bersama-sama membuka sejarah halaman satu

Lalu mengguratkan baris pertama bab yang baru

Seraya mencat spanduk dengan teks yang seru

Terpicu oleh kawan-kawan yang ditembus peluru

Dikejar masuk kampus, terguling di tanah berdebu

Dihajar dusta dan fakta dalam berita selalu

Sampai kini sejak kau lahir dahulu

Inilah pengakuan generasi kami, katamu

Hasil penataan dan penataran yang kaku

Pandangan berbeda tak pernah diaku

Daun-daun hijau dan langit biru, katamu

Daun-daun kuning dan langit kuning, kata orang-orang itu

Kekayaan alam untuk bangsaku, katamu

Kekayaan alam untuk nafsuku, kata orang-orang itu

Karena tak mau nasib rakyat selalu jadi mata dadu

Yang diguncang-guncang genggaman orang-orang itu

Dan nomor yang keluar telah ditentukan lebih dulu

Maka kami bergeraklah kini, katamu

Berjalan kaki, berdiri di atap bis yang melaju

Kemeja basah keringat, ujian semester lupakan dulu

Memasang ikat kepala, mengibar-ngibarkan benderamu

Tanpa ada pimpinan di puncak struktur yang satu

Tanpa dukungan jelas dari yang memegang bedil itu

Sudahlah, ayo kita bergerak saja dulu

Kita percayakan nasib pada Yang Satu Itu.

1998







16.Kita adalah Pemilik Sah Republik ini

Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur.

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku?”

Tidak ada pilihan lain. Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangat untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada pilihan lagi. Kita harus

Berjalan terus

1966




Kumpulan Puisi Karya Taufik Ismail 


KUMPULAN PUISI KARYA

TAUFIQ ISMAIL

 17. KUTAHU KAU KEMBALI JUA ANAKKU

Saudara-kandungku pulang perang, tangannya merah

Kedua pundak landai tiada tulang selangka

Dia tegak goyah, pandangnya pada kami satu-satu

Aku tahu kau kembali jua anakku

Tiba-tiba dia roboh di halaman dia kami papah

Ibu pun perlahanmengusapi dahinya tegar

Tanganku amis ibu, tanganku berdarah

Aku tahu kau kembali jua anakku

Siang itu dia tergolek ibu, lekah perutnya

Aku tak membidiknya, tapi tanganku bersimbah

Tunduk terbungkuk matanya sangat papa

Kami sama rebah, kupeluk dia di tanah

Kauketuk sendiri ambang dadamu anakku

Usapkan jemari sudah berdarah

Simpan laras bedil yang memerah

Kutahu kau kembali jua anakku

18. MALU (AKU) JADI ORANG INDONESIA

Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga

Ke Wisconsin aku dapat beasiswa

Sembilan belas lima enam itulah tahunnya

Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia

Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia

Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda

Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya,

Whitefish Bay kampung asalnya

Kagum dia pada revolusi Indonesia

Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya

Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama

Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya

Dadaku busung jadi anak Indonesia

Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy

Dan mendapat Ph.D. dari Rice University

Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army

Dulu dadaku tegap bila aku berdiri

Mengapa sering benar aku merunduk kini

II

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, ebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

III

Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi

berterang-terang curang susah dicari tandingan,

Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu

dan cucu dimanja kuasa ayah, paman dan kakek

secara hancur-hancuran seujung kuku tak perlu malu,

Di negeriku komisi pembelian alat-alat berat, alat-alat ringan,

senjata, pesawat tempur, kapal selam, kedele, terigu dan

peuyeum dipotong birokrasi

lebih separuh masuk kantung jas safari,

Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,

anak sekjen dan anak dirjen dilayani seperti presiden,

menteri, jenderal, sekjen dan dirjen sejati,

agar orangtua mereka bersenang hati,

Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum

sangat-sangat-sangat-sangat-sangat jelas

penipuan besar-besaran tanpa seujung rambut pun bersalah perasaan,

Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan

sandiwara yang opininya bersilang tak habis

dan tak utus dilarang-larang,

Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata

supaya berdiri pusat belanja modal raksasa,

Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,

ciumlah harum aroma mereka punya jenazah,

sekarang saja sementara mereka kalah,

kelak perencana dan pembunuh itu di dasar neraka

oleh satpam akhirat akan diinjak dan dilunyah lumat-lumat,

Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia

dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,

kabarnya dengan sepotong SK

suatu hari akan masuk Bursa Efek Jakarta secara resmi,

Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan,

lima belas ini-itu tekanan dan sepuluh macam ancaman,

Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,

fotokopi gosip dan fitnah bertebar disebar-sebar,

Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat

jadi pertunjukan teror penonton antarkota

cuma karena sebagian sangat kecil bangsa kita

tak pernah bersedia menerima skor pertandingan

yang disetujui bersama,

Di negeriku rupanya sudah diputuskan

kita tak terlibat Piala Dunia demi keamanan antarbangsa,

lagi pula Piala Dunia itu cuma urusan negara-negara kecil

karena Cina, India, Rusia dan kita tak turut serta,

sehingga cukuplah Indonesia jadi penonton lewat satelit saja,

Di negeriku ada pembunuhan, penculikan

dan penyiksaan rakyat terang-terangan di Aceh,

Tanjung Priuk, Lampung, Haur Koneng,

Nipah, Santa Cruz dan Irian,

ada pula pembantahan terang-terangan

yang merupakan dusta terang-terangan

di bawah cahaya surya terang-terangan,

dan matahari tidak pernah dipanggil ke pengadilan sebagai

saksi terang-terangan,

Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,

tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang

menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.

IV

Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.

1998


19.MEMANG SELALU DEMIKIAN, HADI

Setiap perjuangan selalu melahirkan

Sejumlah pengkhianat dan para penjilat

Jangan kau gusar, Hadi

Setiap perjuangan selalu menghadapkan kita

Pada kaum yang bimbang menghadapi gelombang

Jangan kau kecewa, Hadi

Setiap perjuangan yang akan menang

Selalu mendatangkan pahlawan jadi-jadian

Dan para jagoan kesiangan

Memang demikianlah halnya, Hadi

1966 


20. MENCARI SEBUAH MESJID

Oleh :

Taufiq Ismail

Aku diberitahu tentang sebuah masjid

yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan

fondasinya batu karang dan pualam pilihan

atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan

dan kubahnya tembus pandang, berkilauan

digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan

dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran

dengan warna platina dan keemasan

berbentuk daun-daunan sangat beraturan

serta sarang lebah demikian geometriknya

ranting dan tunas jalin berjalin

bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya

menyentuh lapisan ozon

dan menyeru azan tak habis-habisnya

membuat lingkaran mengikat pinggang dunia

kemudian nadanya yang lepas-lepas

disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas

yang memperindah ratusan juta sajadah

di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana

bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya

engkau berjalan sampai waktu asar

tak bisa kau capai saf pertama

sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu

bershalatlah di mana saja

di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya

yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya

dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya

di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian

yang menyimpan cahaya matahari

kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan

ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna

di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta

terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya

tempat orang-orang bersila bersama

dan bermusyawarah tentang dunia  dengan hati terbuka

dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian

dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan

dalam simpul persaudaraan yang sejati

dalam hangat sajadah yang itu juga

terbentang di sebuah masjid yang mana

Tumpas aku dalam rindu

Mengembara mencarinya

Di manakah dia gerangan letaknya ?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari

ketika di puncak tergelincir dia sempat

lewat seperempat kuadran turun ke barat

dan terdengar merdunya azan di pegunungan

dan aku pun melayangkan pandangan

mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan

ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan

dia berkata :

“Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”

dia menunjuk ke tanah ladang itu

dan di atas lahan pertanian dia bentangkan

secarik tikar pandan

kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran

airnya bening dan dingin mengalir beraturan

tanpa kata dia berwudhu duluan

aku pun di bawah air itu menampungkan tangan

ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan

hangat air terasa, bukan dingin kiranya

demikianlah air pancuran

bercampur dengan air mataku

yang bercucuran.


Jeddah, 30 Januari 1988

Taufiq Ismail

21. NASEHAT-NASEHAT KECIL ORANG TUA

PADA ANAKNYA BERANGKAT DEWASA

Jika adalah yang harus kaulakukan

Ialah menyampaikan kebenaran

Jika adalah yang tidak bisa dijual-belikan

Ialah ang bernama keyakinan

Jika adalah yang harus kau tumbangkan

Ialah segala pohon-pohon kezaliman

Jika adalah orang yang harus kauagungkan

Ialah hanya Rasul Tuhan

Jika adalah kesempatan memilih mati

Ialah syahid di jalan Ilahi

April, 1965 



22. Rindu Pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta

(Dibacakan oleh Taufiq Ismail pada: Acara Deklarasi Gerakan Nasional

Pemberantasan Korupsi, Sumatera Barat, di Asrama Haji, Tabing, Padang,

tgl. 15 Ramadhan 1424 H/10 Nopember 2003 M)

I.

Di awal abad 21, pada suatu Subuh pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi,

Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum

dilangkahi matahari,

Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi,

Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang,

berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta,

Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir seorang

bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita bangsa di

langit pemikirannya dan merancang peta Negara di atas prahara sejarah

manusianya,

Dia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada

gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, “Masuklah kalian ke neraka

dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan, yang pada

hakekatnya hutang itu”.

Suara lantang 39 tahun yang silam itu terapung di Ngarai Sianok, hanyut

di Kali Brantas, menyelam di Laut Banda, melintas di Selat Makassar,

hilang di arus Sungai Mahakam, kemudian tersangkut di tenggorokan 200

juta manusia,

Dua ratus juta manusia itu, terbelenggu rantai hutang di tangan dan kaki,

di abad kini. Petinggi negeri di lobi kantor Pusat Pegadaian Dunia duduk

antri, membawa kaleng kosong bekas cat minta sekedarnya diisi. Setiap

mereka pulang, hutang menggelombang, setiap bayi lahir langsung dua puluh

juta rupiah berkalung hutang, baru akan lunas dua generasi mendatang.

II.

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, aku merenung di depan rumah beratap

seng di Aue Tajungkang nomor 37 ini, yang di awal abad 20 lalu tempat

lahir seorang bayi laki-laki

Aku mengenang negarawan jenius ini dengan rasa penuh hormat karena

rangkaian panjang mutiara sifat: tepat waktu, tunai janji, ringkas

bicara, lurus jujur, hemat serta bersahaja,

Angku Hatta, adakah garam sifat-sifat ini masuk ke dalam sup kehidupanku?

Kucatat dalam puisiku, Angku lebih suka garam dan tak gemar gincu.

Tujuh windu sudah berlalu, aku menyusun sebuah senarai perasaan rindu,

Rindu pada sejumlah sifat dan nilai, yang kini kita rasakan hancur

bercerai-berai,

Kesatuan sebagai bangsa, rasa bersama sebagai manusia Indonesia, ikatan

sejarah dengan pengalaman derita dan suka, inilah kerinduan yang luput

dari sekitar kita,

Kita rindu pada penampakan dan isi jiwa bersahaja, lurs yang tabung,

waktu yang tepat berdentang, janji yang tunai, kalimat yang ringkas

padat, tata hidup yang hemat,

Tiba-tiba kita rindu pada Bung Hatta, pada stelan jas putih dan pantaloon

putihnya, symbol perlawanan pada disain hedonisme dunia, tidak sudi

berhutang, kesederhanaan yang berkilau gemilang,

Kesederhanaan. Ternyata aku tak bisa hidup bersahaja. Terperangkap dalam

krangkeng baja materialisme, boros dan jauh dari hemat, agenda serba

bendaku ditentukan oleh merek 1000 produk impor, iklan televise dan gaya

hidup imitasi,

Bicara ringkas. Susah benar aku melisankan fikiran secara padat. Agaknya

genetika Minang dalam rangkaian kromosomku mendiktekan sifat bicaraku

yang berpanjang-panjang. Angk Hatta, bagaimana Angku dapat bicara ringkas

dan padat? Teratur dan apik? Aku mengintip Angku pada suatu makan siang

di Jalan Diponegoro, yang begitu tertib dan resik,

Tepat waktu. Bung Hatta adalah tepat waktu untuk sebuah bangsa yang

selalu terlambat. Dari seribu rapat, sembilan ratus biasanya telat.

Kegiatanku yang tepat waktu satu-satunya ialah ketika berbuka puasa.

Kelurusan dan kejujuran. Pertahanan apa yang mesti dibangun di dalam

sebuah pribadi supaya orang bisa selalu jujur? Jujur dalam masalah

rezeki, jujur kepada isteri, jujur kepada suami, jujur kepada diri

sendiri, jujur kepada orang banyak, yang bernama rakyat? Rakyat yang di

tipu terus-menerus itu.

Ketika kita rindu bersangatan kepada sepasang jas putih dan pantaloon

putih itu, kita mohonkan kepada Tuhan, semoga nilai-nilai dan sifat-sifat

luhur yang telah hancur berantakan, kepada kita utuh dikembalikan.

III.

Jalan kaki pagi-pagi di Bukittinggi, di depan rumah beratap seng di Aue

Tajungkang nomor 37 ini aku menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian aku

masuk ke dalamnya, dan di ruang tamu menatap potret dinding aku berdiri,

Tampaklah Bung Hatta di antara rakyat banyak dalam gambar itu. Tiba-tiba

Bung Hatta keluar dari gambar sepia itu.

Kemudian Bung Hatta berkata: “Ceritakan Indonesia kini menurut kamu”

Aku tergagap bicara. ^Angku, mangadu ambo kini. Angku, saya mengadu

kini. Krisis berlapis-lapis bagaikan tak habis-habis. Krisis ekonomi,

politik, penegakan hokum, pendidikan, pengangguran, kemiskinan, keamanan,

kekerasan, pertumpahan darah, pemecah-belahan, dan di atas semua itu,

krisis akhlak bangsa,

“Otoritarianisme panjang menyuburkan perilaku materialistic, tamak,

serakah, tipu-menipu, konspiratif, mengutamakan keluarga dekat,

memenangkan golongan sendiri, dan tingkah laku feodalistik,

Krisis nilai luhur merubah potret wajah bangsa menjadi anarkis,

bringas, ganas, tak bersedia kalah, tak segan memfitnah, memaksakan

kehendak, pendendam, perusak, pembakar dan pembunuh. Kekerasan, api,

batu, peluru, puing mayat, asap dan bom sampai ke seluruh muka bumi,

Tetapi tentang bom itu, nanti dulu. Sepuluh dua puluh tahun lagi,

lihat, akan terungkap apa sebenarnya sandiwara besar skenario dunia yang

dipaksakan hari ini. Mentang-mentang.

Aku menarik nafas. Bung Hatta diam. Tak ada senyum di wajahnya

Angku Hatta. Harga apa saja di Indonesia naik semua, kecuali satu.

Harga nyawa. Nyawa murah dan luar biasa jatuh nilainya. Di setiap demo

orang mati. Tahanan polisi gampang mati. Pencuri motor dibakar mati.

Anak-anak sekolah belasan tahun dalam tawuran, tanpa rasa salah dengan

ringan membunuh temannya lain sekolah. Mahasiswa senior yang garang

menggasak, menggampar, menyiksa juniornya sampai mati. Tahun depan

pembunuhan di kampus lain di ulang lagi. Dendam dipelihara dan

diturunkan”

Sesak nafasku. Bung Hatta diam. Matanya merenung jauh.

Alkohol, nikotin, judi, madat, putau, ganja dan sabu-sabu telah meruyak

dan mencengkeram negeri kita, mudah dibeli di tepi jalan, di sekolah, di

mana-mana. Indonesia telah menjadi sorga pornografi paling murah di

dunia. Dengan uang sepuluh ribu anak SLTP dengan mudah bisa membeli VCD

coitus lelaki-perempuan kulit putih 60 menit, 6 posisi dan 6 warna.

Anak-anak SD membaca komik cabul dari Jepang. Di televisi peselingkuhan

dianjurkan dan diajarkan.”

Gelombang hidup permisif, gaya serba boleh ini melanda penulis-penulis pula.

Penulis-penulis perempuan, muda usia, berlomba mencabul-cabulkan karya,

asyik menggarap wilayah selangkang dan sekitarnya dan kompetisi Gerakan

Syahwat Merdeka. Betapa tekun mereka melakukan rekonstruksi dan

dekonstruksi daftar instruksi posisi syahwat selangkangan abad 21 yang

posmo perineum ini.

Dari uap alkohol, asap nikotin dan narkoba, dari bau persetubuhan liar

20 juta keeping VCD biru, dari halaman-halaman komik dan buku cabul

menyebar hawa lendir yang mirip aroma bangkai anak tikus terlantar tiga

hari di selokan pasar desa ke seluruh negeri.

Aku melihat orang-orang menutup hidung dan jijik karenanya. Jijik. Malu

aku memikirkannya”

Jan aku tenan isin sakpore, sakpore, isin buanget dadi wong Indonesia,

Lek asane dadi nak Indonesia,

Masiripka mancaji to Indonesia,

Jelema Indonesia? Eraeun urang, eraeun,

Malu ambo, sabana malu jadi urang Indonesia,!(*)

Malu aku jadi orang Indonesia.

(*) Bahasa Jawa, Bali, Bugis, Sunda dan Minangkabau.

Aku berhenti bicara. Bung Hatta masih tetap diam. Matanya merenung sangat

jauh. Tiba-tiba bayangan wajahnya menghilang.

IV

Indonesia tersaruk-saruk.

Terpincang-pincang dan sempoyongan,

Dicambuki krisis demi krisis seperti tak habis-habis.

Indonesia kini sedang menangis.

Dari status Negeri Cobaan,

Dia turun derajat menjadi Negeri Azab,

Dan kini sedang bergerak merosot kearah Negeri Kutukan.

Indonesia tak habis-habis menangis.

Kusut, masai,

Nestapa, duka,

Pengap dan gelap.

Dari dalam sumur berlumpur ini,

Dari dasar tubir yang menyesakkan nafas ini

Kami menengadah ke atas,

Masih melihat sepotong langit

Dan mengharapkan cahaya.

Kami tetap berikhtiar,

Terus bekerja keras

Seraya menggumamkan doa.

Tuhan,

Jangan biarkan negeri kami

Yang kini sudah menjadi Negeri Azab,

Bergerak merosot kea rah Negeri Kutukan.

Tuhan,

Mohon,

Jangan ditolak

Do’a kami.

2003


23. SALEMBA

Alma Mater, janganlah bersedih

Bila arakan ini bergerak pelahan

Menuju pemakaman

Siang ini

Anakmu yang berani

Telah tersungkur ke bumi

Ketika melawan tirani                                    1966


24.  Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbagi duka yang agung

Dalam kepedihan berahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’

Berikrar setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan-bangunan

Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan

teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN                                                   1966

25. SERATUS  JUTA

Umat miskin dan penganggur berdiri hari ini

Seratus juta banyaknya

Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa

Kini kutundukkan kepala, karena

Ada sesuatu besar luar biasa

Hilang terasa dari rongga dada

Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja

berdiri hari ini

Seratus juta banyaknya

Kita mesti berbuat sesuatu, betapun sukarnya.   1998

Republika,

16 Agustus 1998

Sajak-sajak Reformasi Indonesia

Taufik Ismail 


26. SYAIR  EMPAT KARTU DI TANGAN

Ini bicara blak-blakan saja, bang

Buka kartu tampak tampang

Sehingga semua jelas membayang

Monoloyalitas kami

sebenarnya pada uang

Sudahlah, ka-bukaan saja kita bicara

Koyak tampak terkubak semua

Sehingga buat apa basi dan basa

Sila kami

Keuangan Yang Maha Esa

Jangan sungkan buat apa yah-payah

Analisa psikis toh cuma kwasi ilmiah

Tak usahlah sah-susah

Ideologiku begitu jelas

ideologi rupiah

Begini kawan, bila dadaku jalani pembedahan

Setiap jeroan berjajar kelihatan

Sehingga jelas sebagai keseluruhan

Asas tunggalku

memang keserakahan.     1998

27. TENTANG SERSAN NURCHOLIS

Oleh :

Taufiq Ismail


Seorang Sersan

Kakinya hilang

Sepuluh tahun yang lalu

Setiap siang

Terdengan siulnya

Di bengkel arloji

Sekali datang

Teman-temannya

Sudah orang resmi

Dengan senyum ditolaknya

Kartu anggota

Bekas pejuang

Sersan Nurcholis

Kakinya hilang

Di jaman Revolusi

Setiap siang

Terdengan siulnya

Di bengkel aroloji

(1958)

Budaja Djaja

Thn. VI, No. 61

Juni 1973






28. TUHAN SEMBILAN SENTI

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa

tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai

merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR

merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,

hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi

merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan

pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala

sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah

dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan

kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang

duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok,

di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan

antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai

kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi

tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di

toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,

bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur

ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling

menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di

kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat

penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di

dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,

bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat

merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu

dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang

merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI

sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan

bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor

perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok, di

dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di

ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok

merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang

perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat

merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli

hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi

ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip

berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke

mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99

butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka

memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan

tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul

yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu’ut

tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan

ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.

Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15

penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000

zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,

sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,

lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang

diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu

ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap

rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai

terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120

orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih

dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang

bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban

narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa

di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan

celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan

indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan

sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan

fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap

tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

****

Taufiq Ismail








29. YANG SELALU TERAPUNG

         DI ATAS GELOMBANG

Seseorang dianggap tak bersalah,

sampai dia dibuktikan hukum bersalah.

Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Kini simaklah sebuah kisah,

Seorang pegawai tinggi,

gajinya sebulan satu setengah juta rupiah,

Di garasinya ada Honda metalik,Volvo hitam,

BMW abu-abu, Porsche biru dan Mercedes merah.

Anaknya sekolah di Leiden, Montpelier dan Savannah.

Rumahnya bertebaran di Menteng, Kebayoran dan

Macam Macam Indah,

Setiap semester ganjil,

isteri terangnya belanja di Hongkong dan Singapura.

Setiap semester genap,

isteri gelap liburan di Eropa dan Afrika,

Anak-anaknya pegang dua pabrik,

tiga apotik dan empat biro jasa.

Saudara sepupu dan kemenakannya

punya lima toko onderdil,

enam biro iklan dan tujuh pusat belanja,

Ketika rupiah anjlok terperosok,

kepleset macet dan hancur jadi bubur,

dia ketawa terbahak- bahak

karena depositonya dalam dolar Amerika semua.

Sesudah matahari dua kali tenggelam di langit barat,

jumlah rupiahnya melesat sepuluh kali lipat,

Krisis makin menjadi-jadi, di mana-mana orang antri,

maka seratus kantong plastik hitam dia bagi-bagi.

Isinya masing-masing lima genggam beras,

empat cangkir minyak goreng dan tiga bungkus mi cepat-jadi.

Peristiwa murah hati ini diliput dua menit di kotak televisi,

dan masuk berita koran Jakarta halaman lima pagi-pagi sekali,

Gelombang mau datang, datanglah gelombang,

setiap air bah pasang dia senantiasa

terapung di atas banjir bandang.

Banyak orang tenggelam tak mampu timbul lagi,

lalu dia berkata begini,

“Yah, masing-masing kita rejekinya kan sendiri-sendiri,”

Seperti bandul jam tua yang bergoyang kau lihatlah:

kekayaan misterius mau diperiksa,

kekayaan tidak jadi diperiksa,

kekayaan mau diperiksa,

kekayaan tidak diperiksa,

kekayaan harus diperiksa,

kekayaan tidak jadi diperiksa.

Bandul jam tua Westminster,

tahun empat puluh satu diproduksi,

capek bergoyang begini, sampai dia berhenti sendiri,

Kemudian ide baru datang lagi,

isi formulir harta benda sendiri,

harus terus terang tapi,

dikirimkan pagi-pagi tertutup rapi,

karena ini soal sangat pribadi,

Selepas itu suasana hening sepi lagi,

cuma ada bunyi burung perkutut sekali-sekali,

Seseorang dianggap tak bersalah,

sampai dia dibuktikan hukum bersalah.

Di negeri kami, ungkapan ini terdengar begitu indah.

Bagaimana membuktikan bersalah,

kalau kulit tak dapat dijamah.

Menyentuh tak bisa dari jauh,

memegang tak dapat dari dekat,

Karena ilmu kiat,

orde datang dan orde berangkat,

dia akan tetap saja selamat,

Kini lihat,

di patio rumahnya dengan arsitektur Mediterania,

seraya menghirup teh nasgitel

dia duduk menerima telepon

dari isterinya yang sedang tur di Venezia,

sesudah menilai tiga proposal,

dua diskusi panel dan sebuah rencana rapat kerja,

Sementara itu disimaknya lagu favorit My Way,

senandung lama Frank Sinatra

yang kemarin baru meninggal dunia,

ditingkah lagu burung perkutut sepuluh juta

dari sangkar tergantung di atas sana

dan tak habis-habisnya

di layar kaca jinggel bola Piala Dunia,

Go, go, go, ale ale ale…                                      1998






sumber:

https://hadialwani.blogspot.com/2013/12/kumpulan-puisi-taufiq-ismail-1.html

https://hadialwani.blogspot.com/2013/12/kumpulan-puisi-taufiq-ismail-2.html

http://hadialwani.blogspot.com/2013_12_04_archive.html




Kumpulan Puisi Karya W.S Rendra Lengkap

Kumpulan Puisi Karya W.S Rendra 

W.S. RENDRA




1.AKU TULIS PAMPLET INI

Oleh :

W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini

karena lembaga pendapat umum

ditutupi jaring labah-labah

Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,

dan ungkapan diri ditekan

menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini

bisa luput besok pagi

Ketidakpastian merajalela.

Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki

menjadi marabahaya

menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,

maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam

Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.

Tidak mengandung perdebatan

Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini

karena pamplet bukan tabu bagi penyair

Aku inginkan merpati pos.

Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku

Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan

kenapa harus diam tertekan dan termangu.

Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.

Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?

Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.

Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.

Rembulan memberi mimpi pada dendam.

Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai  sampah

Kegamangan. Kecurigaan.

Ketakutan.

Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini

karena kawan dan lawan adalah saudara

Di dalam alam masih ada cahaya.

Matahari yang tenggelam diganti rembulan.

Lalu besok pagi pasti terbit kembali.

Dan di dalam air lumpur kehidupan,

aku melihat bagai terkaca :

ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978

Potret Pembangunan dalam Puisi


2. DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG

 Tuhanku,

WajahMu membayang di kota terbakar

dan firmanMu terguris di atas ribuan

kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa

Tanah sepi kehilangan lelakinya

Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini

tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti

sempurnalah sudah warna dosa

dan mesiu kembali lagi bicara

Waktu itu, Tuhanku,

perkenankan aku membunuh

perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku

adalah satu warna

Dosa dan nafasku

adalah satu udara.

Tak ada lagi pilihan

kecuali menyadari

-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan

oleh bibirku yang terjajah ?

Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai

mendekap bumi yang mengkhianatiMu

Tuhanku

Erat-erat kugenggam senapanku

Perkenankan aku membunuh

Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Mimbar Indonesia

Th. XIV, No. 25

18 Juni 1960



3. GERILYA

 Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling di jalan

Angin tergantung

terkecap pahitnya tembakau

bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor

diketuk gerbang langit

dan menyala mentari muda

melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah

dengan sayur-mayur di punggung

melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis

dan duka daun wortel

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya

anak janda berambut ombak

ditimba air bergantang-gantang

disiram atas tubuhnya

Tubuh biru

tatapan mata biru

lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani

berlindung warna malam

sendiri masuk kota

ingin ikut ngubur ibunya

siasat Th IX, No 42      1955 

4. GUGUR

Oleh :

W.S. Rendra

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Tiada kuasa lagi menegak

Telah ia lepaskan dengan gemilang

pelor terakhir dari bedilnya

Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Ia sudah tua

luka-luka di badannya

Bagai harimau tua

susah payah maut menjeratnya

Matanya bagai saga

menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu

lima pemuda mengangkatnya

di antaranya anaknya

Ia menolak

dan tetap merangkak

menuju kota kesayangannya

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Belumlagi selusin tindak

mautpun menghadangnya.

Ketika anaknya memegang tangannya

ia berkata :

” Yang berasal dari tanah

kembali rebah pada tanah.

Dan aku pun berasal dari tanah

tanah Ambarawa yang kucinta

Kita bukanlah anak jadah

Kerna kita punya bumi kecintaan.

Bumi yang menyusui kita

dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.

Bumi kita adalah kehormatan.

Bumi kita adalah juwa dari jiwa.

Ia adalah bumi nenek moyang.

Ia adalah bumi waris yang sekarang.

Ia adalah bumi waris yang akan datang.”

Hari pun berangkat malam

Bumi berpeluh dan terbakar

Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata :

“Lihatlah, hari telah fajar !

Wahai bumi yang indah,

kita akan berpelukan buat selama-lamanya !

Nanti sekali waktu

seorang cucuku

akan menacapkan bajak

di bumi tempatku berkubur

kemudian akan ditanamnya benih

dan tumbuh dengan subur

Maka ia pun berkata :

-Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam

ketika menutup matanya



5. HAI, KAMU ! 

Luka-luka di dalam lembaga,

intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,

noda di dalam pergaulan antar manusia,

duduk di dalam kemacetan angan-angan.

Aku berontak dengan memandang cakrawala.

Jari-jari waktu menggamitku.

Aku menyimak kepada arus kali.

Lagu margasatwa agak mereda.

Indahnya ketenangan turun ke hatiku.

Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

Jakarta, 29 Pebruari 1978

Potret Pembangunan dalam Puisi 


6. LAGU SERDADU

Oleh :

W.S. Rendra

Kami masuk serdadu dan dapat senapang

ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang

Yoho, darah kami campur arak!

Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali

Wahai, tanah yang baik untuk mati

Dan kalau ku telentang dengan pelor timah

cukilah ia bagi puteraku di rumah

Siasat

No.  630, th. 13

Nopember 1959






7. LAGU SEORANG GERILYA

(Untuk puteraku Isaias Sadewa)

Oleh :

W.S. Rendra

Engkau melayang jauh, kekasihku.

Engkau mandi cahaya matahari.

Aku di sini memandangmu,

menyandang senapan, berbendera pusaka.

Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,

engkau berkudung selendang katun di kepalamu.

Engkau menjadi suatu keindahan,

sementara dari jauh

resimen tank penindas terdengar menderu.

Malam bermandi  cahaya matahari,

kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.

Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,

engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

Peluruku habis

dan darah muncrat dari dadaku.

Maka  di saat seperti itu

kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan

bersama kakek-kakekku yang telah gugur

di dalam berjuang membela rakyat jelata

Jakarta, 2 september 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi









8. MAZMUR MAWAR

Kita muliakan Nama Tuhan

Kita muliakan dengan segenap mawar

Kita muliakan Tuhan yang manis,

indah, dan penuh kasih sayang

Tuhan adalah serdadu yang tertembak

Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek

sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana

dengan baju compang-camping

membelai kepala kanak-kanak yang lapar.

Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk

Dengan pandangan arif dan bijak

membelai kepala para pelacur

Tuhan berada di gang-gang gelap

Bersama para pencuri, para perampok

dan para pembunuh

Tuhan adalah teman sekamar para penjinah

Raja dari segala raja

adalah cacing bagi bebek dan babi

Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian

yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

Dan sekarang saya lihat

Tuhan sebagai orang tua renta

tidur melengkung di trotoar

batuk-batuk karena malam yang dingin

dan tangannya menekan perutnya yang lapar

Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,

menangis di tepi jalan.

Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!

Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,

Para perampok, pembunuh, penjudi,

pelacur, penganggur, dan peminta-minta

Marilah kita datang kepada-Nya

kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

Dikutip dari:

Sajak-sajak Sepatu Tua

Rendra

Pustaka Jaya 


9. NOTA BENE : AKU KANGEN

Oleh :

W.S. Rendra

Lunglai – ganas karena bahagia dan sedih,

indah dan gigih cinta kita di dunia yang fana.

Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit,

dan anak kita akan lahir di cakrawala.

Ada pun mata kita akan terus bertatapan hingga berabad-abad lamanya.

Juwitaku yang cakap meskipun tanpa dandanan

untukmu hidupku terbuka.

Warna-warna kehidupan berpendar-pendar menakjubkan

Isyarat-isyarat getaran ajaib menggerakkan penaku.

Tanpa sekejap pun luput dari kenangan padamu

aku bergerak menulis pamplet, mempertahankan kehidupan.

Jakarta, Kotabumi, 24 Maret 1978

Potret Pembangunan dalam Puisi


10.  SAJAK JOKI TOBING UNTUK WIDURI

Oleh :

W.S. Rendra

Dengan latar belakang gubug-gubug karton,

aku terkenang akan wajahmu.

Di atas debu kemiskinan,

aku berdiri menghadapmu.

Usaplah wajahku, Widuri.

Mimpi remajaku gugur

di atas padang pengangguran.

Ciliwung keruh,

wajah-wajah nelayan keruh,

lalu muncullah rambutmu yang berkibaran

Kemiskinan dan kelaparan,

membangkitkan keangkuhanku.

Wajah indah dan rambutmu

menjadi pelangi di cakrawalaku.

Nusantara Film, Jakarta, 9 Mei 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi


11. ORANG-ORANG MISKIN

Orang-orang miskin di jalan,

yang tinggal di dalam selokan,

yang kalah di dalam pergulatan,

yang diledek oleh impian,

janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.

Rambut mereka melekat di bulan purnama.

Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,

mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.

Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.

Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,

di jalan  kamu akan diburu bayangan.

Tidurmu akan penuh igauan,

dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya

karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.

Jangan kamu bilang dirimu kaya

bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.

Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.

Dan perlu diusulkan

agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.

Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan

masuk ke dalam tidur malammu.

Perempuan-perempuan bunga raya

menyuapi putra-putramu.

Tangan-tangan kotor dari jalanan

meraba-raba kaca jendelamu.

Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.

Mereka akan menjadi pertanyaan

yang mencegat ideologimu.

Gigi mereka yang kuning

akan meringis di muka agamamu.

Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap

akan hinggap di gorden presidenan

dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,

bagai udara panas yang selalu ada,

bagai gerimis yang selalu membayang.

Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau

tertuju ke dada kita,

atau ke dada mereka sendiri.

O, kenangkanlah :

orang-orang miskin

juga berasal dari kemah Ibrahim

Yogya, 4 Pebruari 1978

Potret Pembangunan dalam Puisi


12. PAMPLET CINTA

Oleh :

W.S. Rendra

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.

Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.

Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.

Aku merindukan wajahmu,

dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.

Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.

Kata-kata telah dilawan dengan senjata.

Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.

Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan

Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.

Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

Suatu malam aku mandi di lautan.

Sepi menjdai kaca.

Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit.

Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada.

Sepi menjadi kaca.

Apa yang bisa dilakukan oleh penyair

bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ?

Udara penuh rasa curiga.

Tegur sapa tanpa jaminan.

Air lautan berkilat-kilat.

Suara lautan adalah suara kesepian.

Dan lalu muncul wajahmu.

Kamu menjadi makna

Makna menjadi harapan.

……. Sebenarnya apakah harapan ?

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.

Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.

Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.

Aku tertawa, Ma !

Angin menyapu rambutku.

Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.

Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.

Perutku sobek di jalan raya yang lengang…….

Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.

Aku menulis sajak di bordes kereta api.

Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,

aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.

Lalu muncullah kamu,

nongol dari perut matahari bunting,

jam duabelas seperempat siang.

Aku terkesima.

Aku disergap kejadian tak terduga.

Rahmat turun bagai hujan

membuatku segar,

tapi juga menggigil bertanya-tanya.

Aku jadi bego, Ma !

Yaaah , Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.

Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,

dan sedih karena kita sering berpisah.

Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ?

Bahagia karena  napas mengalir dan jantung berdetak.

Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.

Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,

memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Pejambon, Jakarta, 28 April 1978

Potret Pembangunan dalam Puisi


13. SAJAK ANAK MUDA

Kita adalah angkatan gagap

yang diperanakkan oleh angkatan takabur.

Kita kurang pendidikan resmi

di dalam hal keadilan,

karena tidak diajarkan berpolitik,

dan tidak diajar dasar ilmu hukum

Kita melihat kabur pribadi orang,

karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa.

Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,

karena tidak diajar filsafat atau logika.

Apakah kita tidak dimaksud

untuk mengerti itu semua ?

Apakah kita hanya dipersiapkan

untuk menjadi alat saja ?

inilah gambaran rata-rata

pemuda tamatan SLA,

pemuda menjelang dewasa.

Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan.

Bukan pertukaran pikiran.

Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,

dan bukan ilmu latihan menguraikan.

Dasar keadilan di dalam pergaulan,

serta pengetahuan akan kelakuan manusia,

sebagai kelompok atau sebagai pribadi,

tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji.

Kenyataan di dunia menjadi remang-remang.

Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,

tidak bisa kita hubung-hubungkan.

Kita marah pada diri sendiri

Kita sebal terhadap masa depan.

Lalu akhirnya,

menikmati masa bodoh dan santai.

Di dalam kegagapan,

kita hanya bisa membeli dan memakai

tanpa bisa mencipta.

Kita tidak bisa memimpin,

tetapi hanya bisa berkuasa,

persis seperti bapak-bapak kita.

Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat.

Di sana anak-anak memang disiapkan

Untuk menjadi alat dari industri.

Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti.

Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ?

Kita hanya menjadi alat birokrasi !

Dan birokrasi menjadi berlebihan

tanpa kegunaan –

menjadi benalu di dahan.

Gelap. Pandanganku gelap.

Pendidikan tidak memberi pencerahan.

Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan

Gelap. Keluh kesahku gelap.

Orang yang hidup di dalam pengangguran.

Apakah yang terjadi di sekitarku ini ?

Karena tidak bisa kita tafsirkan,

lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja.

Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ?

Apakah ini ? Apakah ini ?

Ah, di dalam kemabukan,

wajah berdarah

akan terlihat sebagai bulan.

Mengapa harus kita terima hidup begini ?

Seseorang berhak diberi ijazah dokter,

dianggap sebagai orang terpelajar,

tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.

Dan bila ada ada tirani merajalela,

ia diam tidak bicara,

kerjanya cuma menyuntik saja.

Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum

dianggap sebagi bendera-bendera upacara,

sementara hukum dikhianati berulang kali.

Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi

dianggap bunga plastik,

sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi.

Kita berada di dalam pusaran tatawarna

yang ajaib dan tidak terbaca.

Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan.

Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan.

Dan bila luput,

kita memukul dan mencakar

ke arah udara

Kita adalah angkatan gagap.

Yang diperanakan  oleh angkatan kurangajar.

Daya hidup telah diganti oleh nafsu.

Pencerahan telah diganti oleh pembatasan.

Kita adalah angkatan yang berbahaya.

Pejambon, Jakarta, 23 Juni 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi


14. SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA 

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.

Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.

Amarah merajalela tanpa alamat.

Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.

Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah.

O, jaman edan !

O, malam kelam pikiran insan !

Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.

Kitab undang-undang tergeletak di selokan

Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan !

O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja !

Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa

Allah selalu mengingatkan

bahwa hukum harus lebih tinggi

dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan !

O, rasa putus asa yang terbentur sangkur !

Berhentilah mencari ratu adil !

Ratu adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya !

Apa yang harus kita tegakkan bersama

adalah Hukum Adil.

Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara.

Bau anyir darah yag kini memenuhi udara

menjadi saksi yang akan berkata :

Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,

apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,

apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,

maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,

lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana !

Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta !

Apakah masih buta dan tuli di dalam hati ?

Apakah masih akan menipu diri sendiri ?

Apabila saran akal sehat kamu remehkan

berarti pintu untuk pikiran-pikiran gelap

yang akan muncul dari sudut-sudut gelap

telah kamu bukakan !

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi

Airmata mengalir dari sajakku ini.



Catatan :

Sajak ini dibuat di Jakarta pada 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR

(Kemarin Bengkel Teater mengirimkan dua sajak ke Jawa Pos)

15 SAJAK BULAN PURNAMA


Bulan terbit dari lautan.

Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.

Dan menjelang malam,

wajahnya yang bundar,

menyinari gubug-gubug kaum gelandangan

kota Jakarta.

Langit sangat cerah.

Para pencuri bermain gitar.

dan kaum pelacur naik penghasilannya.

Malam yang permai

anugerah bagi sopir taksi.

Pertanda nasib baik

bagi tukang kopi di kaki lima.

Bulan purnama duduk di sanggul babu.

Dan cahayanya yang kemilau

membuat tuannya gemetaran.

“kemari, kamu !” kata tuannya

“Tidak, tuan, aku takut nyonya !”

Karena sudah penasaran,

oleh cahaya rembulan,

maka tuannya bertindak masuk dapur

dan langsung menerkamnya

Bulan purnama raya masuk ke perut babu.

Lalu naik ke ubun-ubun

menjadi mimpi yang gemilang.

Menjelang pukul dua,

rembulan turun di jalan raya,

dengan rok satin putih,

dan parfum yang tajam baunya.

Ia disambar petugas keamanan,

lalu disuguhkan pada tamu negara

yang haus akan hiburan.

Yogya, 22 Oktober 1976

Potret Pembangunan dalam Puisi 


16. SAJAK BURUNG-BURUNG KONDOR


Angin gunung turun merembes ke hutan,

lalu bertiup di atas permukaan kali yang luas,

dan akhirnya berumah di daun-daun tembakau.

Kemudian hatinya pilu

melihat jejak-jejak sedih para petani – buruh

yang terpacak di atas tanah gembur

namun tidak memberi kemakmuran bagi penduduknya.

Para tani – buruh bekerja,

berumah di gubug-gubug tanpa jendela,

menanam bibit di tanah yang subur,

memanen hasil yang berlimpah dan makmur

namun hidup mereka sendiri sengsara.

Mereka memanen untuk tuan tanah

yang mempunyai istana indah.

Keringat mereka menjadi emas

yang diambil oleh cukong-cukong pabrik cerutu di Eropa.

Dan bila mereka menuntut perataan pendapatan,

para ahli ekonomi membetulkan letak dasi,

dan menjawab dengan mengirim kondom.

Penderitaan mengalir

dari parit-parit wajah rakyatku.

Dari pagi sampai sore,

rakyat negeriku bergerak dengan lunglai,

menggapai-gapai,

menoleh ke kiri, menoleh ke kanan,

di dalam usaha tak menentu.

Di hari senja mereka menjadi onggokan sampah,

dan di malam hari mereka terpelanting ke lantai,

dan sukmanya berubah menjadi burung kondor.

Beribu-ribu burung kondor,

berjuta-juta burung kondor,

bergerak menuju ke gunung tinggi,

dan disana mendapat hiburan dari sepi.

Karena hanya sepi

mampu menghisap dendam dan sakit hati.

Burung-burung kondor menjerit.

Di dalam marah menjerit,

bergema di tempat-tempat yang sepi.

Burung-burung kondor menjerit

di batu-batu gunung menjerit

bergema di tempat-tempat yang sepi

Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu,

mematuki batu-batu, mematuki udara,

dan di kota orang-orang  bersiap menembaknya.

Yogya, 1973

Potret Pembangunan dalam Puisi



17. SAJAK GADIS DAN MAJIKAN


Janganlah tuan seenaknya memelukku.

Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu.

Aku  bukan ahli ilmu menduga,

tetapi jelas sudah kutahu

pelukan ini apa artinya…..

Siallah pendidikan yang aku terima.

Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,

kerapian, dan tatacara,

Tetapi lupa diajarkan :

bila dipeluk majikan dari belakang,

lalu sikapku bagaimana !

Janganlah tuan seenaknya memelukku.

Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.

Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,

Ketika tuan siku teteku,

sudah kutahu apa artinya……

Mereka ajarkan aku membenci dosa

tetapi lupa mereka ajarkan

bagaimana mencari kerja.

Mereka ajarkan aku gaya hidup

yang peralatannya tidak berasal dari lingkungan.

Diajarkan aku membutuhkan

peralatan yang dihasilkan majikan,

dan dikuasai para majikan.

Alat-alat rias, mesin pendingin,

vitamin sintetis, tonikum,

segala macam soda, dan ijazah sekolah.

Pendidikan membuatku terikat

pada pasar mereka, pada modal mereka.

Dan kini, setelah aku dewasa.

Kemana lagi aku ‘kan lari,

bila tidak ke dunia majikan ?

Jangnlah tuan seenaknya memelukku.

Aku bukan cendekiawan

tetapi aku cukup tahu

semua kerja di mejaku

akan ke sana arahnya.

Jangan tuan, jangan !

Jangan seenaknya memelukku.

Ah, Wah .

Uang yang tuan selipkan ke behaku

adalah ijazah pendidikanku

Ah, Ya.

Begitulah.

Dengan yakin tuan memelukku.

Perut tuan yang buncit

menekan perutku.

Mulut tuan yang buruk

mencium mulutku.

Sebagai suatu kewajaran

semuanya tuan lakukan.

Seluruh anggota masyarakat membantu tuan.

Mereka pegang kedua kakiku.

Mereka tarik pahaku mengangkang.

Sementara tuan naik ke atas tubuhku.

Yogya, 10 Juli 1975

Potret Pembangunan dalam Puisi





Kumpulan Puisi Karya W.S Rendra 

W.S. RENDRA



18. SAJAK KENALAN LAMAMU

Oleh :

W.S. Rendra

Kini kita saling berpandangan saudara.

Ragu-ragu apa pula,

kita memang pernah berjumpa.

Sambil berdiri di ambang pintu kereta api,

tergencet oleh penumpang berjubel,

Dari Yogya ke Jakarta,

aku melihat kamu tidur di kolong bangku,

dengan alas kertas koran,

sambil memeluk satu anakmu,

sementara istrimu meneteki bayinya,

terbaring di sebelahmu.

Pernah pula kita satu truk,

duduk di atas kobis-kobis berbau sampah,

sambil meremasi tetek tengkulak sayur,

dan lalu sama-sama kaget,

ketika truk tiba-tiba terhenti

kerna distop oleh polisi,

yang menarik pungutan tidak resmi.

Ya, saudara, kita sudah sering berjumpa,

kerna sama-sama anak jalan raya.

……………………………

Hidup macam apa ini !

Orang-orang dipindah kesana ke mari.

Bukan dari tujuan ke tujuan.

Tapi dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan.

…………………….

Kini kita bersandingan, saudara.

Kamu kenal bau bajuku.

Jangan kamu ragu-ragu,

kita memang pernah bertemu.

Waktu itu hujan rinai.

Aku menarik sehelai plastik dari tong sampah

tepat pada waktu kamu juga menariknya.

Kita saling berpandangan.

Kamu menggendong anak kecil di punggungmu.

Aku membuka mulut,

hendak berkata sesuatu……

Tak sempat !

Lebih dulu tinjumu melayang ke daguku…..

Dalam pandangan mata berkunang-kunang,

aku melihat kamu

membawa helaian plastik itu

ke satu gubuk karton.

Kamu lapiskan ke atap gubugmu,

dan lalu kamu masuk dengan anakmu…..

Sebungkus nasi yang dicuri,

itulah santapan.

Kolong kios buku di terminal

itulah peraduan.

Ya, saudara-saudara, kita sama-sama kenal ini,

karena kita anak jadah bangsa yang mulia.

………………….

Hidup macam apa hidup ini.

Di taman yang gelap orang menjual badan,

agar mulutnya tersumpal makan.

Di hotel yang mewah istri guru menjual badan

agar pantatnya diganjal sedan.

……………..

Duabelas pasang payudara gemerlapan,

bertatahkan intan permata di sekitar putingnya.

Dan di bawah semuanya,

celana dalam sutera warna kesumba.

Ya, saudara,

Kita sama-sama tertawa mengenang ini semua.

Ragu-ragu apa pula

kita memang pernah berjumpa.

Kita telah menyaksikan,

betapa para pembesar

menjilati selangkang wanita,

sambil kepalanya diguyur anggur.

Ya, kita sama-sama germo,

yang menjahitkan jas di Singapura

mencat rambut di pangkuan bintang film,

main golf, main mahyong,

dan makan kepiting saus tiram di restoran terhormat.

………..

Hidup dalam khayalan,

hidup dalam kenyataan……

tak ada bedanya.

Kerna khayalan dinyatakan,

dan kenyataan dikhayalkan,

di dalam peradaban fatamorgana.

……….

Ayo, jangan lagi sangsi,

kamu kenal suara batukku.

Kamu lihat lagi gayaku meludah di trotoar.

Ya, memang aku. Temanmu dulu.

Kita telah sama-sama mencuri mobil ayahmu

bergiliran meniduri gula-gulanya,

dan mengintip ibumu main serong

dengan ajudan ayahmu.

Kita telah sama-sama beli morphin dari guru kita.

Menenggak valium yang disediakan oleh dokter untuk ibumu,

dan akhirnya menggeletak di emper tiko,

di samping kere di Malioboro.

Kita alami semua ini,

kerna kita putra-putra dewa di dalam masyarakat kita.

…..

Hidup melayang-layang.

Selangit,

melayang-layang.

Kekuasaan mendukung kita serupa ganja…..

meninggi…. Ke awan……

Peraturan dan hukuman,

kitalah yang empunya.

Kita tulis dengan keringat di ketiak,

di atas sol sepatu kita.

Kitalah gelandangan kaya,

yang perlu meyakinkan diri

dengan pembunuhan.

Saudara-saudara, kita sekarang berjabatan.

Kini kita bertemu lagi.

Ya, jangan kamu ragu-ragu,

kita memang pernah bertemu.

Bukankah tadi telah kamu kenal

betapa derap langkahku ?

Kita dulu pernah menyetop lalu lintas,

membakari mobil-mobil,

melambaikan poster-poster,

dan berderap maju, berdemonstrasi.

Kita telah sama-sama merancang strategi

di panti pijit dan restoran.

Dengan arloji emas,

secara teliti kita susun jadwal waktu.

Bergadang, berunding di larut kelam,

sambil mendekap hostess di kelab malam.

Kerna begitulah gaya pemuda harapan bangsa.

Politik adalah cara merampok dunia.

Politk adalah cara menggulingkan kekuasaan,

untuk menikmati giliran berkuasa.

Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan.

dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi

lalu ke mobil sport, lalu : helikopter !

Politik adalah festival dan pekan olah raga.

Politik adalah wadah kegiatan kesenian.

Dan bila ada orang banyak bacot,

kita cap ia sok pahlawan.

………………………..

Dimanakah kunang-kunag di malam hari ?

Dimanakah trompah kayu di muka pintu ?

Di hari-hari yang berat,

aku cari kacamataku,

dan tidak ketemu.

………………

Ya, inilah aku ini !

Jangan lagi sangsi !

Inilah bau ketiakku.

Inilah suara batukku.

Kamu telah menjamahku,

jangan lagi kamu ragau.

Kita telah sama-sama berdiri di sini,

melihat bianglala berubah menjadi lidah-lidah api,

gunung yang kelabu membara,

kapal terbang pribadi di antara mega-mega meneteskan air mani

di putar blue-film di dalamnya.

…………………

Kekayaan melimpah.

Kemiskinan melimpah.

Darah melimpah.

Ludah menyembur dan melimpah.

Waktu melanda dan melimpah.

Lalu muncullah banjir suara.

Suara-suara di kolong meja.

Suara-suara di dalam lacu.

Suara-suara di dalam pici.

Dan akhirnya

dunia terbakar oleh tatawarna,

Warna-warna nilon dan plastik.

Warna-warna seribu warna.

Tidak luntur semuanya.

Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi

dari suatu kejadian,

yang kita tidak tahu apa-apa,

namun lahir dari perbuatan kita.

Yogyakarta, 21 Juni 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi


19. SAJAK MATAHARI

Oleh :

W.S. Rendra

Matahari bangkit dari sanubariku.

Menyentuh permukaan samodra raya.

Matahari keluar dari mulutku,

menjadi pelangi di cakrawala.

Wajahmu keluar dari jidatku,

wahai kamu, wanita miskin !

kakimu terbenam di dalam lumpur.

Kamu harapkan beras seperempat gantang,

dan di tengah sawah tuan tanah menanammu !

Satu juta lelaki gundul

keluar dari hutan belantara,

tubuh mereka terbalut lumpur

dan kepala mereka berkilatan

memantulkan cahaya matahari.

Mata mereka menyala

tubuh mereka menjadi bara

dan mereka membakar dunia.

Matahri adalah cakra jingga

yang dilepas tangan Sang Krishna.

Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,

ya, umat manusia !

Yogya, 5 Maret 1976

Potret Pembangunan dalam Puisi

20. SAJAK MATA-MATA


Ada suara bising di bawah tanah.

Ada suara gaduh di atas tanah.

Ada ucapan-ucapan kacau di antara rumah-rumah.

Ada tangis tak menentu di tengah sawah.

Dan, lho, ini di belakang saya

ada tentara marah-marah.

Apaa saja yang terjadi ? Aku tak tahu.

Aku melihat kilatan-kilatan api berkobar.

Aku melihat isyarat-isyarat.

Semua tidak jelas maknanya.

Raut wajah yang sengsara, tak bisa bicara,

menggangu pemandanganku.

Apa saja yang terjadi ? Aku tak tahu.

Pendengaran dan penglihatan

menyesakkan perasaan,

membuat keresahan –

Ini terjadi karena apa-apa yang terjadi

terjadi tanpa kutahu telah terjadi.

Aku tak tahu. Kamu tak tahu.

Tak ada yang tahu.

Betapa kita akan tahu,

kalau koran-koran ditekan sensor,

dan mimbar-mimbar yang bebas telah dikontrol.

Koran-koran adalah penerusan mata kita.

Kini sudah diganti mata yang resmi.

Kita tidak lagi melihat kenyataan yang beragam.

Kita hanya diberi gambara model keadaan

yang sudah dijahit oleh penjahit resmi.

Mata rakyat sudah dicabut.

Rakyat meraba-raba di dalam kasak-kusuk.

Mata pemerintah juga diancam bencana.

Mata pemerintah memakai kacamata hitam.

Terasing di belakang meja kekuasaan.

Mata pemerintah yang sejati

sudah diganti mata-mata.

Barisan mata-mata mahal biayanya.

Banyak makannya.

Sukar diaturnya.

Sedangkan laporannya

mirp pandangan mata kuda kereta

yang dibatasi tudung mata.

Dalam pandangan yang kabur,

semua orang marah-marah.

Rakyat marah, pemerinta marah,

semua marah lantara tidak punya mata.

Semua mata sudah disabotir.

Mata yangbebas beredar hanyalah mata-mata.

Hospital Rancabadak, Bandung, 28 Januari 1978

Potret Pembangunan dalam Puisi


 21. SAJAK ORANG KEPANASAN 

 Karena kami makan akar

dan terigu menumpuk di gudangmu

Karena kami hidup berhimpitan

dan ruangmu berlebihan

maka kami bukan sekutu

Karena kami kucel

dan kamu gemerlapan

Karena kami sumpek

dan kamu mengunci pintu

maka kami mencurigaimu

Karena kami telantar dijalan

dan kamu memiliki semua keteduhan

Karena kami kebanjiran

dan kamu berpesta di kapal pesiar

maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam

dan kamu nyerocos bicara

Karena kami diancam

dan kamu memaksakan kekuasaan

maka kami bilang : TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih

dan kamu bebas berencana

Karena kami semua bersandal

dan kamu bebas memakai senapan

Karena kami harus sopan

dan kamu punya penjara

maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali

dan kamu batu tanpa hati

maka air akan mengikis batu

Suara Merdeka,

Jumat, 15 Mei 1998


22. SAJAK PEPERANGAN ABIMANYU

(Untuk puteraku, Isaias Sadewa)


Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru.

Sang ksatria berdiri dengan mata bercahaya.

Hatinya damai,

di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,

karena ia telah lunas

menjalani kewjiban dan kewajarannya.

Setelah ia wafat

apakah petani-petani akan tetap menderita,

dan para wanita kampung

tetap membanjiri rumah pelacuran di kota ?

Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.

Tetapi bukan itu yang terlintas di kepalanya

ketika ia tegak dengan tubuh yang penuh luka-luka.

Saat itu ia mendengar

nyanyian angin dan air yang turun dari gunung.

Perjuangan adalah satu pelaksanaan cita dan rasa.

Perjuangan adalah pelunasan kesimpulan penghayatan.

Di saat badan berlumur darah,

jiwa duduk di atas teratai.

Ketika ibu-ibu meratap

dan mengurap rambut mereka dengan debu,

roh ksatria bersetubuh dengan cakrawala

untuk menanam benih

agar nanti terlahir para pembela rakyat tertindas

– dari zaman ke zaman

 Jakarta, 2 Sptember 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi


 23. SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA

Matahari terbit pagi ini

mencium bau kencing orok di kaki langit,

melihat kali coklat menjalar ke lautan,

dan mendengar dengung lebah di dalam hutan.

Lalu kini ia dua penggalah tingginya.

Dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini

memeriksa keadaan.

Kita bertanya :

Kenapa maksud baik tidak selalu berguna.

Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.

Orang berkata “ Kami ada maksud baik “

Dan kita bertanya : “ Maksud baik untuk siapa ?”

Ya ! Ada yang jaya, ada yang terhina

Ada yang bersenjata, ada yang terluka.

Ada yang duduk, ada yang diduduki.

Ada yang berlimpah, ada yang terkuras.

Dan kita di sini bertanya :

“Maksud baik saudara untuk siapa ?

Saudara berdiri di pihak yang mana ?”

Kenapa maksud baik dilakukan

tetapi makin banyak petani yang kehilangan tanahnya.

Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota.

Perkebunan yang luas

hanya menguntungkan segolongan kecil saja.

Alat-alat kemajuan yang diimpor

tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya.

Tentu kita bertanya :

“Lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”

Sekarang matahari, semakin tinggi.

Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala.

Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :

Kita ini dididik untuk memihak yang mana ?

Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini

akan menjadi alat pembebasan,

ataukah alat penindasan ?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam.

Malam akan tiba.

Cicak-cicak berbunyi di tembok.

Dan rembulan akan berlayar.

Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda.

Akan hidup di dalam bermimpi.

Akan tumbuh di kebon belakang.

Dan esok hari

matahari akan terbit kembali.

Sementara hari baru menjelma.

Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan.

Atau masuk ke sungai

menjadi ombak di samodra.

Di bawah matahari ini kita bertanya :

Ada yang menangis, ada yang mendera.

Ada yang habis, ada yang mengikis.

Dan maksud baik kita

berdiri di pihak yang mana !

Jakarta 1 Desember 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaja.



24. SAJAK POTRET KELUARGA


Oleh :

W.S. Rendra

Tanggal lima belas tahun rembulan.

Wajah molek bersolek di angkasa.

Kemarau dingin jalan berdebu.

Ular yang lewat dipagut naga.

Burung tekukur terpisah dari sarangnya.

Kepada rekannya berkatalah suami itu :

“Semuanya akan beres. Pasti beres.

Mengeluhkan keadaan tak ada gunanya.

Kesukaran selalu ada.

Itulah namanya kehidupan.

Apa yang kita punya sudah lumayan.

Asal keluarga sudah terjaga,

rumah dan mobil juga ada,

apa palgi yang diruwetkan ?

Anak-anak dengan tertib aku sekolahkan.

Yang putri di SLA, yang putra mahasiswa.

Di rumah ada TV, anggrek,

air conditioning, dan juga agama.

Inilah kesejahteraan yang harus dibina.

Kita mesti santai.

Hanya orang edan sengaja mencari kesukaran.

Memprotes keadaaan, tidak membawa perubahan.

Salah-salah malah hilang jabatan.”

………

Tanggal lima belas tahun rembulan

Angin kemarau tergantung di blimbing berkembang.

Malam disambut suara halus dalam rumputan.

Anjing menjenguk keranjang sampah.

Kucing berjalan di bubungan atap.

Dan ketonggeng menunggu di bawah batu.

Isri itu duduk di muka kaca dan berkata :

“Hari-hari mengalir seperti sungai arak.

Udara penuh asap candu.

Tak ada yang jelas di dalam kehidupan.

Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan.

Tak ada yang bisa diambil pegangan.

Suamiku asyik dengan mobilnya

padahal hidupnya penuh utang.

Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.

Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.

Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.

Apakah jaminan pendidikannya ?

Ah, Suamiku !

Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,

pikirannya jelas pula.

Tetapi kini serba tidak kebenaran.

Setiap barang membuatnya berengsek.

Padahal harganya mahal semua.

TV Selalu dibongkar.

Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.

Akhirnya tertidur…….

Sementara TV-nya membuat kegaduhan.

Tak ada lagi yang bisa menghiburnya.

Gampang marah soal mobil

Gampang pula kambuh bludreknya

Makanan dengan cermat dijaga

malahan kena sakit gula.

Akulah yang selalu kena luapan.

Ia marah karena tak berdaya.

Ia menyembunyikan kegagalam.

Ia hanyut di dalam kemajuan zaman.

Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya !”

…………………………………..

Tanggal lima belas tahun rembulan.

Tujuh unggas tidur di pohon nangka

Sedang di tanah ular mencari mangsa.

Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan.

Di tebing yang landai tidurlah buaya.

Di antara batu-batu dua ketam bersenggama.

Sang Putri yang di SLA, berkata :

“Kawinilah aku. Buat aku mengandung.

Bawalah aku pergi. Jadikanlah aku babu.

Aku membenci duniaku ini.

Semuanya serba salah, setiap orang gampang marah.

Ayah gampang marah lantaran mobil dan TV

Ibu gampang marah lantaran tak berani marah kepada ayah.

Suasana tegang di dalam rumah

meskipun rapi perabotannya.

Aku yakin keluargaku mencintaiku.

Tetapi semuanya ini untuk apa ?

Untuk apa hidup keluargaku ini ?

Apakah ayah hidup untuk mobil dan TV ?

Apakah ibu hidup karena tak punya pilihan ?

Dan aku ? Apa jadinya aku nanti ?

Tiga belas tahun aku belajar di sekolah.

Tetapi belum juga mampu berdiri sendiri.

Untuk apakah kehidupan kami ini ?

Untuk makan ? Untuk baca komik ?

Untuk apa ?

Akhirnya mendorong untuk tidak berbuat apa-apa !

Kemacetan mencengkeram hidup kami.

Kakasihku, temanilah aku merampok Bank.

Pujaanku, suntikkan morpin ini ke urat darah di tetekku “

………………………………………

Tanggal lima belas tahun rembulan.

Atap-atap rumah nampak jelas bentuknya

di bawah cahaya bulan.

Sumur yang sunyi menonjol di bawah dahan.

Akar bambu bercahaya pospor.

Keleawar terbang menyambar-nyambar.

Seekor kadal menangkap belalang.

Sang Putra, yang mahasiswa, menulis surat dimejanya :

“ Ayah dan ibu yang terhormat,

aku pergi meninggalkan rumah ini.

Cinta kasih cukup aku dapatkan.

Tetapi aku menolak cara hidup ayah dan ibu.

Ya, aku menolak untuk mendewakan harta.

Aku menolak untuk mengejar kemewahan,

tetapi kehilangan kesejahteraan.

Bahkan kemewahan yang ayah punya

tidak juga berarti kemakmuran.

Ayah berkata : “santai, santai ! “

tetapi sebenarnya ayah hanyut

dibawa arus jorok keadaan

Ayah hanya punya kelas,

tetapi tidak punya kehormatan.

Kenapa ayah berhak mendapatkan kemewahan yang sekarang ayah miliki ini?

Hasil dari bekerja ? Bekerja apa ?

Apakh produksi dan jasa seorang birokrat yang korupsi ?

Seorang petani lebih produktip daripada ayah.

Seorang buruh lebih punya jasa yang nyata.

Ayah hanya bisa membuat peraturan.

Ayah hanya bisa tunduk pada atasan.

Ayah hanya bisa mendukung peraturan yang memisahkan rakyat dari penguasa.

Ayah tidak produktip melainkan destruktip.

Namun toh ayah mendapat gaji besar !

Apakah ayah pernah memprotes ketidakadilan ?

tidak pernah, bukan ?

Terlalu beresiko, bukan ?

Apakah aku harus mencontoh ayah ?

Sikap hidup ayah adalah pendidikan buruk bagi jiwaku.

Ayah dan ibu, selamat tinggal.

Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya. “

Yogya, 10 Juli 1975.

Potret Pembangunan dalam Puisi

25. SAJAK PULAU BALI


Sebab percaya akan keampuhan  industri

dan yakin bisa memupuk modal nasional

dari kesenian dan keindahan alam,

maka Bali menjadi obyek pariwisata.

Betapapun :

tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,

Bali harus dibuka untuk pariwisata.

Sebab :

pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,

dan maskapai penerbangan harus berjalan.

Harus ada orang-orang untuk diangkut.

Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.

Dan waktu senggang manusia,

serta masa berlibur untuk keluarga,

harus bisa direbut oleh maskapai

untuk diindustrikan.

Dan Bali,

dengan segenap kesenian,

kebudayaan, dan alamnya,

harus bisa diringkaskan,

untuk dibungkus dalam kertas kado,

dan disuguhkan pada pelancong.

Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,

di muka perkemahan kaum Badui,

di sisi mana pun yang tak terduga,

lebih mendadak dari mimpi,

merupakan kejutan kebudayaan.

Inilah satu kekuasaan baru.

Begitu cepat hingga kita terkesiap.

Begitu lihai sehingga kita terkesima.

Dan sementara kita bengong,

pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi,

membawa bentuk kekuatan modalnya :

lapangan terbang. “hotel – bistik – dan – coca cola”,

jalan raya, dan para pelancong.

“Oh, look, honey – dear !

Lihat orang-orang pribumi itu!

Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.

Fantastic ! Kita harus memotretnya !

…………………………..

Awas ! Jangan dijabat tangannya !

senyum saja and say hello.

You see, tangannya kotor

Siapa tahu ada telor cacing di situ.

…………………….

My God, alangkah murninya mereka.

Ia tidak menutupi teteknya !

Look, John, ini benar-benar tetek.

Lihat yang ini ! O, sempurna !

Mereka bebas dan spontan.

Aku ingin seperti mereka…..

Eh, maksudku…..

Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.

Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.

Look, now, John, jangan cemberut !

Berdirilah di sampingnya,

aku potret di sini.

Ah ! Fabolous !”

Dan Bank Dunia

selalu tertarik membantu negara miskin

untuk membuat proyek raksasa.

Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.

Dan kemajuan kita

adalah kemajuan budak

atau kemajuan penyalur dan pemakai.

Maka di Bali

hotel-hotel pribumi bangkrut

digencet oleh packaged tour.

Kebudayaan rakyat ternoda

digencet standar dagang internasional.

Tari-tarian bukan lagi satu mantra,

tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.

Pahatan dan ukiran  bukan lagi ungkapan jiwa,

tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.

Hidup dikuasai kehendak manusia,

tanpa menyimak jalannya alam.

Kekuasaan kemauan manusia,

yang dilembagakan dengan kuat,

tidak mengacuhkan naluri ginjal,

hati, empedu, sungai, dan hutan.

Di Bali :

pantai, gunung, tempat tidur dan pura,

telah dicemarkan

Pejambon, 23 Juni 1977.

Potret Pembangunan dalam Puisi


26. SAJAK S L A

Murid-murid mengobel klentit ibu gurunya

Bagaimana itu mungkin ?

Itu mungkin.

Karena tidak ada patokan untuk apa saja.

Semua boleh. Semua tidak boleh.

Tergantung pada cuaca.

Tergantung pada amarah dan girangnya sang raja.

Tergantung pada kuku-kuku garuda dalam mengatur kata-kata.

Ibu guru perlu sepeda motor dari Jepang.

Ibu guru ingin hiburan dan cahaya.

Ibu guru ingin atap rumahnya tidak bocor.

Dan juga ingin jaminan pil penenang,

tonikum-tonikum dan obat perangsang yang dianjurkan oleh dokter.

Maka berkatalah ia

Kepada orang tua murid-muridnya :

“Kita bisa mengubah keadaan.

Anak-anak akan lulus ujian kelasnya,

terpandang di antara tetangga,

boleh dibanggakan pada kakak mereka.

Soalnya adalah kerjasama antara kita.

Jangan sampai kerjaku terganggu,

karna atap bocor.”

Dan papa-papa semua senang.

Di pegang-pegang tangan ibu guru,

dimasukan uang ke dalam genggaman,

serta sambil lalu,

di dalam suasana persahabatan,

teteknya disinggung dengan siku.

Demikianlah murid-murid mengintip semua ini.

Inilah ajaran tentang perundingan,

perdamaian, dan santainya kehidupan.

Ibu guru berkata :

“Kemajuan akan berjalan dengan lancar.

Kita harus menguasai mesin industri.

Kita harus maju seperti Jerman,

Jepang, Amerika.

Sekarang, keluarkanlah daftar logaritma.”

Murid-murid tertawa,

dan mengeluarkan rokok mereka.

“Karena mengingat kesopanan,

jangan kalian merokok.

Kelas adalah ruangbelajar.

Dan sekarang : daftar logaritma !”

Murid-murid tertawa dan berkata :

“Kami tidak suka daftar logaritma.

Tidak ada gunanya !”

“kalian tidak ingin maju ?”

“Kemajuan bukan soal logaritma.

Kemajuan adalah soal perundingan.”

“Jadi apa yang kaian inginkan ?”

“Kami tidak ingin apa-apa.

Kami sudah punya semuanya.”

“Kalian mengacau !”

“Kami tidak mengacau.

Kami tidak berpolitik.

Kami merokok dengan santai.

Sperti ayah-ayah kami di kantor mereka :

santai, tanpa politik

berunding dengan Cina

berunding dengan Jepang

menciptakan suasana girang.

Dan di saat ada pemilu,

kami membantu keamanan,

meredakan partai-partai.”

Murid-murid tertawa.

Mereka menguasai perundingan.

Ahli lobbying.

Faham akan gelagat.

Pandai mengikuti keadaan.

Mereka duduk di kantin,

minum sitrun,

menghindari ulangan sejarah.

Mereka tertidur di bangku kelas,

yang telah mereka bayar sama mahal

seperti sewa kamar di hotel.

Sekolah adalah pergaulan,

yang ditentukan oleh mode,

dijiwai oleh impian kemajuan menurut iklan.

Dan bila ibu guru berkata :

“Keluarkan daftar logaritma !”

Murid-murid tertawa.

Dan di dalam suasana persahabatan,

mereka mengobel ibu guru mereka.

Yogya, 22 Juni 1977.

Potret Pembangunan dalam Puisi


 27. SAJAK SEBATANG LISONG

Menghisap sebatang lisong

melihat Indonesia Raya,

mendengar 130 juta rakyat,

dan di langit

dua tiga cukong mengangkang,

berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.

Fajar tiba.

Dan aku melihat delapan juta kanak-ka

nak

tanpa pendidikan.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur meja kekuasaan yang macet,

dan papantulis-papantulis para pendidik

yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak

menghadapi satu jalan panjang,

tanpa pilihan,

tanpa pepohonan,

tanpa dangau persinggahan,

tanpa ada bayangan ujungnya.

…………………

Menghisap udara

yang disemprot deodorant,

aku melihat sarjana-sarjana menganggur

berpeluh di jalan raya;

aku melihat wanita bunting

antri uang pensiun.

Dan di langit;

para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,

bahwa bangsa mesti dibangun;

mesti di-up-grade

disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.

Langit pesta warna di dalam senjakala

Dan aku melihat

protes-protes yang terpendam,

terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,

tetapi pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan

berkunang-kunang pandang matanya,

di bawah iklan berlampu neon,

Berjuta-juta harapan ibu dan bapak

menjadi gemalau suara yang kacau,

menjadi karang di bawah muka samodra.

………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.

Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.

Kita mesti keluar ke jalan raya,

keluar ke desa-desa,

mencatat sendiri semua gejala,

dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku

Pamplet masa darurat.

Apakah artinya kesenian,

bila terpisah dari derita lingkungan.

Apakah artinya berpikir,

bila terpisah dari masalah kehidupan.

 19 Agustus 1977

ITB Bandung

Potret Pembangunan dalam Puisi

Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta”, yang disutradarai oleh Sumandjaya. 

28. SAJAK SEBOTOL BIR

Oleh :

W.S. Rendra

Menenggak bir sebotol,

menatap dunia,

dan melihat orang-orang kelaparan.

Membakar dupa,

mencium bumi,

dan mendengar derap huru-hara.

Hiburan kota besar dalam semalam,

sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !

Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

Mengapa kita membangun kota metropolitan ?

dan alpa terhadap peradaban di desa ?

Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,

dan tidak kepada pengedaran ?

Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,

Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing

akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam

Kota metropolitan di sini,

adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,

Australia, dan negara industri lainnya.

Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?

Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?

Kini telah terlantarkan.

Menjadi selokan atau kubangan.

Jalanlalu lintas masa kini,

mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,

adalah alat penyaluran barang-barang asing dari

pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan

bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,

tidak untuk petani,

tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.

Di mana kita hanya mampu berak dan makan,

tanpa ada daya untuk menciptakan.

Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?

Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik

yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……..

harus senantiasa menghasilkan….

Dan akhirnya memaksa negara lain

untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?

…………………………….

Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?

Apakah pemikiran ekonomi kita

hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?

Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?

Apakah kita akan hanyut saja

di dalam kekuatan penumpukan

yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan

terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?

……………………………….

Kita telah dikuasai satu mimpi

untuk menjadi orang lain.

Kita telah menjadi asing

di tanah leluhur sendiri.

Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,

dan menghamba ke Jakarta.

Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi

dan menghamba kepada Jepang,

Eropa, atau Amerika.

Pejambon, 23 Juni 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi






29. SAJAK SEONGGOK JAGUNG

Oleh :

W.S. Rendra

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda

yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,

sang pemuda melihat ladang;

ia melihat petani;

ia melihat panen;

dan suatu hari subuh,

para wanita dengan gendongan

pergi ke pasar ………..

Dan ia juga melihat

suatu pagi hari

di dekat sumur

gadis-gadis bercanda

sambil menumbuk jagung

menjadi maisena.

Sedang di dalam dapur

tungku-tungku menyala.

Di dalam udara murni

tercium kuwe jagung

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda.

Ia siap menggarap jagung

Ia melihat kemungkinan

otak dan tangan

siap bekerja

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar

dan seorang pemuda tamat SLA

Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

Ia memandang jagung itu

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta .

Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.

Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.

Ia melihat saingannya naik sepeda motor.

Ia melihat nomor-nomor lotre.

Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

Seonggok jagung di kamar

tidak menyangkut pada akal,

tidak akan menolongnya.

Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda

yang pandangan hidupnya berasal dari buku,

dan tidak dari kehidupan.

Yang tidak terlatih dalam metode,

dan hanya penuh hafalan kesimpulan,

yang hanya terlatih sebagai pemakai,

tetapi kurang latihan bebas berkarya.

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

Aku bertanya :

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing

di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan

bila hanya mendorong seseorang

menjadi layang-layang di ibukota

kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang

belajat filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,

atau apa saja,

bila pada akhirnya,

ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata :

“ Di sini aku merasa asing dan sepi !”

Tim, 12 Juli 1975

Potret Pembangunan dalam Puisi





30. SAJAK SEORANG TUA DI BAWAH POHON

Inilah sajakku,

seorang tua yang berdiri di bawah pohon meranggas,

dengan kedua tangan kugendong di belakang,

dan rokok kretek yang padam di mulutku.

Aku memandang zaman.

Aku melihat gambaran ekonomi

di etalase toko yang penuh merk asing,

dan jalan-jalan bobrok antar desa

yang tidak memungkinkan pergaulan.

Aku melihat penggarongan dan pembusukan.

Aku meludah di atas tanah.

Aku berdiri di muka kantor polisi.

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran.

Aku melihat kekerasan tanpa undang-undang.

Dan sebatang jalan panjang,

punuh debu,

penuh kucing-kucing liar,

penuh anak-anak berkudis,

penuh serdadu-serdadu yang jelek dan menakutkan.

Aku berjalan menempuh matahari,

menyusuri jalan sejarah pembangunan,

yang kotor dan penuh penipuan.

Aku mendengar orang berkata :

“Hak asasi manusia tidak sama dimana-mana.

Di sini, demi iklim pembangunan yang baik,

kemerdekaan berpolitik harus dibatasi.

Mengatasi kemiskinan

meminta pengorbanan sedikit hak asasi”

Astaga, tahi kerbo apa ini !

Apa disangka kentut bisa mengganti rasa keadilan ?

Di negeri ini hak asasi dikurangi,

justru untuk membela yang mapan dan kaya.

Buruh, tani, nelayan, wartawan, dan mahasiswa,

dibikin tak berdaya.

O, kepalsuan yang diberhalakan,

berapa jauh akan bisa kaulawan kenyataan kehidupan.

Aku mendengar bising kendaraan.

Aku mendengar pengadilan sandiwara.

Aku mendengar warta berita.

Ada gerilya kota merajalela di Eropa.

Seorang cukong bekas kaki tangan fasis,

seorang yang gigih, melawan buruh,

telah diculik dan dibunuh,

oleh golongan orang-orang yang marah.

Aku menatap senjakala di pelabuhan.

Kakiku ngilu,

dan rokok di mulutku padam lagi.

Aku melihat darah di langit.

Ya ! Ya ! Kekerasan mulai mempesona orang.

Yang kuasa serba menekan.

Yang marah mulai mengeluarkan senjata.

Bajingan dilawan secara bajingan.

Ya ! Inilah kini kemungkinan yang mulai menggoda orang.

Bila pengadilan tidak menindak bajingan resmi,

maka bajingan jalanan yang akan diadili.

Lalu apa kata nurani kemanusiaan ?

Siapakah yang menciptakan keadaan darurat ini ?

Apakah orang harus meneladan tingkah laku bajingan resmi ?

Bila tidak, kenapa bajingan resmi tidak ditindak ?

Apakah kata nurani kemanusiaan ?

O, Senjakala yang menyala !

Singkat tapi menggetarkan hati !

Lalu sebentar lagi orang akan mencari bulan dan bintang-bintang !

O, gambaran-gambaran yang fana !

Kerna langit di badan yang tidak berhawa,

dan langit di luar dilabur bias senjakala,

maka nurani dibius tipudaya.

Ya ! Ya ! Akulah seorang tua !

Yang capek tapi belum menyerah pada mati.

Kini aku berdiri di perempatan jalan.

Aku merasa tubuhku sudah menjadi anjing.

Tetapi jiwaku mencoba menulis sajak.

Sebagai seorang manusia.

Pejambon, 23 Oktober 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi





31. SAJAK SEORANG TUA TENTANG BANDUNG LAUTAN API

Bagaimana mungkin kita bernegara

Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya

Bagaimana mungkin kita berbangsa

Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup

bersama ?

Itulah sebabnya

Kami tidak ikhlas

menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris

dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu

sehingga menjadi lautan api

Kini batinku kembali mengenang

udara panas yang bergetar dan menggelombang,

bau asap, bau keringat

suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki

langit berwarna kesumba

Kami berlaga

memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.

Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata

yang bisa dialami dengan nyata

Mana mungkin itu bisa terjadi

di dalam penindasan dan penjajahan

Manusia mana

Akan membiarkan keturunannya hidup

tanpa jaminan kepastian ?

Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah

Hidup yang diperkembangkan

dan hidup yang dipertahankan

Itulah sebabnya kami melawan penindasan

Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan

bangsa tetap terjaga

Kini aku sudah tua

Aku terjaga dari tidurku

di tengah malam di pegunungan

Bau apakah yang tercium olehku ?

Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu

yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?

Ataukah ini bau limbah pencemaran ?

Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?

Apakah ini deru perjuangan masa silam

di tanah periangan ?

Ataukah gaduh hidup yang rusuh

karena dikhianati dewa keadilan.

Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku

dibangunkan oleh mimpi ?

Apakah aku tersentak

Oleh satu isyarat kehidupan ?

Di dalam kesunyian malam

Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !

Apakah yang terjadi ?

Darah teman-temanku

Telah tumpah di Sukakarsa

Di Dayeuh Kolot

Di Kiara Condong

Di setiap jejak medan laga. Kini

Kami tersentak,

Terbangun bersama.

Putera-puteriku, apakah yang terjadi?

Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?

Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,

Apakah kita masih sama-sama setia

Membela keadilan hidup bersama

Manusia dari setiap angkatan bangsa

Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga

Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi

Dan menghadapi pertanyaan jaman :

Apakah yang terjadi ?

Apakah yang telah kamu lakukan ?

Apakah yang sedang kamu lakukan ?

Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna

Dari jawaban yang kita berikan.

Sajak-sajak : Rendra, Sutardji Calzoum Bachri

pada Hari Kebangkitan Nasional 1990


32. SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA

Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kau kenangkan encokmu

kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang

Dan juga masa depan kita

yang hampir rampung

dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri

dan terasing dengan nasib kita

Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.

Suka duka kita bukanlah istimewa

kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh

Hidup adalah untuk mengolah hidup

bekerja membalik tanah

memasuki rahasia langit dan samodra,

serta mencipta dan mengukir dunia.

Kita menyandang tugas,

kerna tugas adalah tugas.

Bukannya demi sorga atau neraka.

Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu

meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.

Kita adalah kepribadian

dan harga kita adalah kehormatan kita.

Tolehlah lagi ke belakang

ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.

Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.

Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit

melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.

Dan kenangkanlah pula

bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa

menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.

Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.

Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.

Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,

nasib, dan kehidupan.

Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna

Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.

Kita menjadi goyah dan bongkok

kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita

tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

Aku tulis sajak ini

untuk menghibur hatimu

Sementara kaukenangkan encokmu

kenangkanlah pula

bahwa kita ditantang seratus dewa.

 WS. Rendra, Sajak-sajak sepatu tua,1972

…BAHWA KITA DITANTANG SERATUS DEWA.


 33. SAJAK TANGAN


Inilah tangan seorang mahasiswa,

tingkat sarjana muda.

Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai,

yang terpegang anderox hostes berumbai,

Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu,

tak ada jawaban.

Aku tendang pintu,

pintu terbuka.

Di balik pintu ada lagi pintu.

Dan selalu :

ada tulisan jam bicara

yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana

dan aku keluar mengembara.

Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan

muncul di depanku.

Tanganku aku sodorkan.

Nampak asing di antara tangan beribu.

Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur,

tangan nelayan yang bergaram,

aku jabat dalam tanganku.

Tangan mereka penuh pergulatan

Tangan-tangan yang menghasilkan.

Tanganku yang gamang

tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong,

tangan pejabat,

gemuk, luwes, dan sangat kuat.

Tanganku yang gamang dicurigai,

disikat.

Tanganku mengepal.

Ketika terbuka menjadi cakar.

Aku meraih ke arah delapan penjuru.

Di setiap meja kantor

bercokol tentara atau orang tua.

Di desa-desa

para petani hanya buruh tuan tanah.

Di pantai-pantai

para nelayan tidak punya kapal.

Perdagangan berjalan tanpa swadaya.

Politik hanya mengabdi pada cuaca…..

Tanganku mengepal.

Tetapi tembok batu didepanku.

Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku.

Aku berjalan mengembara.

Aku akan menulis kata-kata kotor

di meja rektor

TIM, 3 Juli 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi



34. SAJAK WIDURI UNTUK JOKI TOBING

Oleh :

W.S. Rendra

Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.

Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.

Orang-orang miskin menentang kemelaratan.

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,

kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.

Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu

karena terlibat aku di dalam napasmu.

Dari bis kota ke bis kota

kamu memburuku.

Kita duduk bersandingan,

menyaksikan hidup yang kumal.

Dan perlahan tersirap darah kita,

melihat sekuntum bunga telah mekar,

dari puingan masa yang putus asa.

Nusantara Film, Jakarta, 9 Mei 1977

Potret Pembangunan dalam Puisi





35. TAHANAN

Oleh :

W.S. Rendra

Atas ranjang batu

tubuhnya panjang

bukit barisan tanpa bulan

kabur dan liat

dengan mata sepikan terali

Di lorong-lorong

jantung matanya

para pemuda bertangan merah

serdadu-serdadu Belanda rebah

Di mulutnya menetes

lewat mimpi

darah di cawan tembikar

dijelmakan satu senyum

barat  di perut gunung

(Para pemuda bertangan merah

adik lelaki neruskan dendam)

Dini hari bernyanyi

di luar dirinya

Anak lonceng

menggeliat enam kali

di perut ibunya

Mendadak

dipejamkan matanya

Sipir memutar kunci selnya

dan berkata

-He, pemberontak

hari yang berikut bukan milikmu !

Diseret di muka peleton algojo

ia meludah

tapi tak dikatakannya

-Semalam kucicip sudah

betapa lezatnya madu darah.

Dan tak pernah didengarnya

enam pucuk senapan

meletus bersama

Kisah

Th VI, No 11

Nopember 1956



sumber:

https://hadialwani.blogspot.com/2013/12/kumpulan-puisi-ws-rendra-2.html

https://hadialwani.blogspot.com/2013/12/kumpulan-puisi-ws-rendra-1.html

http://hadialwani.blogspot.com/2013_12_04_archive.html