Tampilkan postingan dengan label ilmu penyakit kulit kelamin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu penyakit kulit kelamin. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 September 2023

Flora normal Kulit

 

Flora Normal Kulit




Definisi

Kulit manusia tidak steril dari bakteri. Terdapat bakteri yang menetap pada kulit berkisar 102 – 106 CFU/cm2Bakteri yang menetap tadi dapat mempengaruhi anatomi, fisiologi, dan suspektibilitas pada patogen. Mikroba normal yang menetap tersebut dapat dikatakan tidak menyebabkan penyakit dan mungkin menguntungkan bila ia berada di lokasi yang semestinya dan tanpa adanya keadaan abnormal. Mereka dapat menyebabkan penyakit bila karena keadaan tertentu berada di tempat yang tak semestinya atau bila ada faktor predisposisi.


Klasifikasi Flora Normal Kulit

Flora normal dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu: flora residen dan flora transien.  Flora residen merupakan bakteri yang berada di lapisan dalam kulit. Letaknya dibawah sel superfisial lapisan stratum korneum dan dapat ditemukan di lapisan permukaan kulit, karena letaknya yang dalam itu flora jenis ini lebih sulit dihilangkan secara mekanik. Mikrobiota residen memiliki fungsi sebagai kompetitor nutrisi pada eksistem dan antagonis mikroba.  Potensial patogenik yang lebih rendah dibanding dengan flora transien merupakan hal yang penting untuk mencegah kolonisasi bakteri yang memiliki kemampuan menimbulkan penyakit lebih besar pada kulit. Flora jenis ini terdiri dari mayoritas staphylococcus koagulase negatif dan corynebacterium, dengan kepadatan populasi antara 103 dan 103 CFU/cm2.


Flora transien mengolonisasi lapisan permukaan kulit dengan waktu yang singkat dan biasanya didapatkan dari kontak dengan pasien atau lingkungan yang terkontaminasi. Organisme yang termasuk dalam flora transien mudah dihilangkan dengan kegiatan mekanis seperti mencuci tangan. pH rendah, fatty acid pada sekresi sebasea, dan adanya enzim lisozim adalah beberapa faktor penting dalam eleminasi flora non-residen dari kulit. Flora transien, diantaranya Staphylococcus aureus, basil gram negatif, atau Candida species, merupakan penyebab infeksi nosokomial paling tinggi dan berperan dalam penyebaran resistensi mikroba. 

EKTIMA

 EKTIMA






DEFINISI

Ektima ialah ulkus superfisial dengan krusta di atasnya disebabkan infeksi oleh Streptococcus.

ETIOLOGI

Streptococcus B hemolyticus.

GEJALA KUNIS 

Tampak sebagai krusta tebal berwarna kuning , biasanya berlokasi di tungkai bawah , yaitu tempat yang relatif banyak mendapat trauma. Jika krusta diangkat ternyata lekat dan tampak ulkus yang dangkal.

DIAGNOSIS BANDING

Impetigo krustosa. Persamaannya, kedua- duanya berkrusta berwarna kuning. Perbedaan- nya, impetigo krustosa terdapat pada anak , berlokasi di wajah, dan dasarnya ialah erosi. Sebaliknya ektima terdapat baik pada anak maupun dewasa, tempat predileksi di tungkai bawah, dan dasarnya ialah ulkus.

PENGOBATAN

Jika hanya sedikit, krusta diangkat lalu diolesi dengan salap antibiotik . Kalau banyak, juga diobati dengan antibiotik sistemik. 







FOLIKULITIS


FOLIKULITIS

 




DEFINISI

Radang folikel rambut.

ETIOLOGI

Staphylococcus aureus.

KLASIFIKASI
1. Folikulitis superfisialis: terdapat di dalam epidermis

SINONIM

Impetigo Bockhart

GEJALA KLINIS

Tempat predileksi di tungkai bawah. Kelainan berupa papul atau pustul yang eritematosa dan di tengahnya terdapat rambut, biasanya multipel. 

Gejala Folikulitis

Gejala folikulitis tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya. Namun, folikulitis umumnya menimbulkan sejumlah gejala berikut:

  • Bintik-bintik kecil kemerahan atau seperti jerawat di kulit tempat rambut tumbuh
  • Benjolan berisi nanah yang dapat membesar atau pecah
  • Benjolan terasa perih, panas, sakit, atau gatal
  • Rambut di area yang meradang mengalami kerontokan

2. Folikulitis profunda: sampai ke subkutan Gambaran klinisnya seperti di atas , hanya teraba infiltrat di subkutan. Contohnya sikosis barbe yang berlokasi di bibir atas dan dagu, bilateral. 


DIAGNOSIS BANDING

GEJALA KUNIS

Tinea barbe, lokalisasinya di mandibula atau submandibula, unilateral. Pada tinea barbe sediaan dengan KOH positif.

PENGOBATAN

Antibiotik sistemik/topikal. Cari faktor predisposisi. 


Pencegahan Folikulitis

Folikulitis bisa dicegah dengan melakukan upaya-upaya sederhana, seperti:

  • Jaga kulit tetap bersih dan lembap, terutama jika rentan terserang infeksi, misalnya karena menderita diabetes.
  • Gunakan krim pencukur sebelum mencukur, dan oleskan krim pelembap setelah mencukur.
  • Pastikan untuk menggunakan pisau cukur yang tajam dan baru setiap mencukur. Bila memungkinkan, gunakan pencukur elektrik atau krim penghilang bulu.
  • Hindari mengenakan pakaian yang ketat agar tidak terjadi gesekan antara kulit dan pakaian.
  • Gunakan produk perawatan kulit yang menjaga kelembapan kulit dan tidak menyumbat pori-pori kulit.
  • Selalu gunakan handuk yang bersih dan jangan berbagi pakai handuk, alat cukur, atau barang pribadi lainnya dengan orang lain.
  • Hindari berendam pada tempat yang kebersihannya tidak terjamin.
  • Rajin cuci tangan dengan air bersih dan sabun.

daftar pustaka


Lim, S., Shin, K., & Mun, J. (2022). Dermoscopy for Cutaneous Fungal Infections: A Brief Review. Health Science Reports, 5(1), pp. 1–5.
Lin, H., et al. (2021). Interventions for Bacterial Folliculitis and Boils (Furuncles and Carbuncles). The Cochrane Database of Systematic Reviews, 2(2), pp. 1–103.
Del Giudice, P. (2020). Skin Infections Caused by Staphylococcus Aureus. Acta Dermato-venereologica, 100(9), pp. 1–8.
Schuler, A., Veenstra, J., & Tisack, A. (2020). Folliculitis Induced by Laser Hair Removal: Proposed Mechanism and Treatment. The Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, 13(5), pp. 34–36.
National Institutes of Health (2022). National Library of Medicine. Folliculitis.
Cleveland Clinic (2021). Disease & Conditions. Folliculitis.
Mayo Clinic (2022). Diseases & Conditions. Folliculitis.
Healthline (2022). Folliculitis: What It Is and What You Can Do About It.
Patient Info (2020). Folliculitis.
WebMD (2022). Folliculitis.


IMPETIGO

 IMPETIGO


DEFINISI

Impetigo ialah pioderma superfisialis (terbatas pada epidermis)

KLASIFIKASI

1. Impetigo krustosa

SINONIM

Impetigo kontagiosa, impetigo vulgaris, impetigo Tillbury Fox.

ETIOLOGI

Streptococcus B hemolyticus.

GEJALA KLINIS 

Tidak disertai gejala umum, hanya terdapat pada anak. Tempat predileksi di wajah, yakni di sekitar lubang hidung dan mulut karena dianggap sumber infeksi dari daerah tersebut. Kelainan kulit berupa eritema dan vesikel yang cepat memecah sehingga jika penderita datang berobat yang terlihat ialah krusta tebal berwarna kuning seperti madu . Jika dilepaskan tampak erosi di bawahnya . Sering krusta menyebar ke perifer dan sembuh di bagian tengah.

Komplikasi: glomerulonefritis (2-5%), yang disebabkan oleh serotipe tertentuu.

DIAGNOSIS BANDING

Ektima

PENGOBATAN

Jika krusta sedikit, dilepaskan dan diberi salap antibiotik. Kalau banyak diberi pula antibiotik sistemik.

2. Impetigo bulosa 




SINONIM

Impetigo vesiko-bulosa, cacar monyet.

ETIOLOGI

Staphylococcus aureus

GEJALA KLINIS

Keadaan umum tidak dipengaruhi. Tempat prediksi di aksila, dada, punggung. Sering bersama-sama miliaria. Terdapat pada anak dan orang dewasa. Kelainan kulit berupa eritema, bula, dan bula hipopion. Kadang- kadang waktu penderita datang berobat, vesikel/ bula telah memecah sehingga yang tampak hanya koleret dan dasarnya masih eritematosa.

DIAGNOSIS BANDING

Jika vesikel/bula telah pecah dan hanya terdapat koleret dan eritema, maka mirip dermatofitosis . Pada anamnesis hendaknya ditanyakan, apakah sebelumnya terdapat lepuh. Jika ada, diagnosisnya ialah impetigo bulosa


PENGOBATAN

Jika terdapat hanya beberapa vesikel/ bula, dipecahkan lalu diberi salap antibiotik atau cairan antiseptik. Kalau banyak diberi pula antibiotik sistemik. Faktor predisposisi dicari, jika karena banyak keringat, ventilasi diperbaiki.

Impetigo neonatorum

Penyakit ini merupakan varian impetigo bulosa yang terdapat pada neonatus . Kelainan kulit berupa impetigo bulosa hanya lokasinya menyeluruh, dapat disertai demam.

DIAGNOSIS BANDING

Sifilis kongenital. Pada penyakit ini bula juga terdapat di telapak tangan dan kaki, terdapat pula snuffle nose, saddle nose, dan pseudo paralisis Parrot. 

PENGOBATAN

Antibiotik harus diberikan secara sistemik. Topikal dapat diberikan bedak salisil 2% 


Pencegahan Impetigo

Impetigo adalah penyakit menular. Artinya, cara terbaik untuk mencegah terjadinya penularan adalah menjaga kebersihan diri sendiri dan lingkungan. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah:

  • Rajin mencuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun, terlebih setelah melakukan aktivitas di luar rumah. 
  • Menutup luka sehingga bakteri tidak masuk ke dalam tubuh.
  • Rutin memotong dan selalu menjaga kebersihan kuku.
  • Tidak menyentuh atau menggaruk luka untuk menurunkan risiko penyebaran infeksi.
  • Mencuci pakaian atau membersihkan semua benda yang telah digunakan untuk membantu menghilangkan bakteri.
  • Menghindari berbagi penggunaan peralatan, terlebih alat makan, handuk, atau pakaian dengan pengidap impetigo.
  • Mengganti sprei, handuk, atau pakaian yang digunakan pengidap impetigo setiap hari sampai luka tidak lagi menularkan infeksi.

Anak dengan impetigo sangat dianjurkan untuk tidak beraktivitas di luar rumah hingga gejala yang dialaminya sepenuhnya sembuh. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan mengurangi interaksi atau kontak langsung dengan anak lain yang bisa meningkatkan risiko terjadinya penularan.

 

Komplikasi Impetigo

Impetigo biasanya tidak berbahaya. Namun, apabila tidak mendapatkan penanganan yang benar, impetigo bisa memicu beberapa komplikasi, yaitu:

  • Selulitis atau infeksi jaringan kulit dan lemak.
  • Psoriasis gutata, kelainan kulit yang ditandai dengan munculnya ruam yang menyerupai tetesan air.
  • Demam scarlet, demam yang muncul disertai dengan ruam merah di seluruh tubuh.
  • Sepsis.
  • Glomerulonefritis atau peradangan pada ginjal.
  • SSSS (staphylococcal scalded skin syndrome) atau infeksi bakteri yang menyebabkan kulit melepuh seperti terbakar.

Referensi:
MedlinePlus. Diakses pada 2022. Impetigo. 
Johns Hopkins University. Diakses pada 2022. Impetigo. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Diseases. Impetigo. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Diseases and Conditions. Impetigo. 
Healthline. Diakses pada 2022. Impetigo: Everything You Need to Know

PIODERMA

 PIODERMA




PENDAHULUAN

Piodenna merupakan penyakit yang sering dijumpai. Di Departemen llmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, insidensnya menduduki tempat ketiga, dan berhubungan erat dengan keadaan sosial- ekonomi.

Sebenamya infeksi kulit kecuali disebabkan oleh kuman positif-Gram seperti pada piodenna, dapat pula disebabkan oleh kuman negatif-Gram , misalnya: Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris, Proteus mirabilis, Escherichia coli, dan Klebsiel/a . Penyebab yang umum ialah kuman positif-Gram, yakni streptokokus dan stafilokokus.

DEFINISI

Piodenna ialah penyakit kulit yang disebab- kan oleh Staphylococcus, Streptococcus, atau oleh kedua-duanya.

ETIOLOGI

Penyebab utama ialah Staphylococcus aureus dan Streptococcus B hemolyticus, sedangkan Staphylococcus epidennidis merupakan penghuni nonnal di kulit dan jarang menyebabkan infeksi.

FAKTOR PREDISPOSISI

  1. Higiene yang kurang

  2. Menurunnya daya tahan

    Misalnya: kekurangan gizi, anemia, penyakit

    kronik, neoplasma ganas, diabetes melitus.

  3. Telah ada penyakit lain di kulit

    Karena terjadi kerusakan di epidennis, maka fungsi kulit sebagai pelindung akan terganggu sehingga memudahkan terjadinya infeksi.


1. Pioderma primer

lnfeksi terjadi pada kulit yang normal. Gambaran klinisnya tertentu, biasanya disebabkan oleh satu macam mikro- organisme.

2. Pioderma sekunder

Pada kulit telah ada penyakit kulit lain. Gambaran klinis tak khas dan meng-ikuti penyakit yang telah ada. Jika penyakit kulit disertai piodenna sekunder disebut im- petigenisata , contohnya : dennatitis impeti- genisata, skabies impetigenisata. Tanda impe- tigenisata, ialah jika terdapat pus, pustul, bula purulen, krusta berwama kuning kehijauan, pembesaran kelenjar getah bening regional, leukositosis, dapat pula disertai demam .


PENGOBATAN UMUM 

I. Sistemik

Berbagai obat dapat digunakan sebagai pengobatan pioderma . Berikut ini disebutkan contoh-contohnya

1.Penisilin G prokain dan semisintetiknya

a. Penisilin G prokain 

Dosis 1,2 juta per hari, i.m. Obat ini tidak dipakai lagi karena tidak praktis, diberikan i.m. dengan dosis tinggi, dan makin sering terjadi syok anafilaktaktik. A

b. ampisilin Dosis 4 x 500 mg, diberikan sejam sebelum makan.

c. Amoksisilin Dosis sama dengan ampisilin , keuntungan lebih praktis karena dapat diberikan setelah makan . Juga cepat diabsorbsi dibandingkan dengan ampisilin sehingga konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.

d. Golongan obat penisilin resisten-penisilinase Yang termasuk golongan ini, contoh- nya: oksasilin, kloksasilin, dikloksasilin, flukloksasilin. Dosis kloksasilin 3 x 250 mg per hari sebelum makan. Golongan obat ini mempunyai kelebihan karena juga berkhasiat bagi Staphylococcus aureus yang telah membentuk penisilinase


2. Linkomisin dan klindamisin

Dosis linkomisin 3 x 500 mg sehari. Klin-damisin diabsorbsi lebih baik karena itu dosisnya lebih kecil, yakni 4 x 150 mg sehari per oral. Pada infeksi berat dosisnya 4 x 300-450 mg sehari. Obat ini efektif untuk pioderma di samping golongan obat penisilin resisten-penisilinase . Efek samping yang disebut di kepustakaan berupa kolitis pseudomembranosa, belum pernah penulis temukan . Linkomisin tidak dianjurkan lagi dan diganti dengan klindamisin karena potensi antibakterialnya lebih besar, efek samping lebih sedikit, pada pemberian per oral tidak terlalu dihambat oleh adanya makanan dalam lambung ,

3. Eritromisin

 Dosisnya 4 x 500 mg sehari per oral. Efektivitasnya kurang dibandingkan dengan linkomisin/klindamisin dan obat golongan penisilin resisten-penisilinase . Obat ini cepat menyebabkan resistensi. Sering memberi rasa tak enak di lambung.

4. Sefalosporin

Pada pioderma yang berat atau yang tidak memberi respons dengan obat- obat tersebut di atas , dapat digunakan sefalosporin.Ada empat generasi yang berkhasiat untuk kuman positif-Gram ialah generasi I, juga generasi IV. Contohnya sefadroksil dari generasi I dengan dosis untuk orang dewasa 2 x 500 mg atau 2 x 1000 mg sehari


II. Topikal

Bermacam-macam obat topikal dapat diguna- kan untuk pengobatan pioderma. Obat topikal antimikrobial hendaknya yang tidak dipakai secara sistemik agar kelak tidak terjadi resistensi dan hipersensitivitas, contohnya ialah basitrasin, neomisin dan mupirosin. Neomisin juga berkhasiat untuk kuman negatif-Gram . Neomisin , yang di negeri barat dikatakan sering menyebabkan sensitisasi, menurut pengalaman penulis jarang terjadi. Teramisin dan kloramfenikol tidak begitu efektif, banyak digunakan karena harganya murah. Obat-obat tersebut berbentuk salap atau krim.

Sebagai obat topikal juga kompres terbuka, contohnya: larutan permanganas kalikus 1/5000, larutan rivanol 1%o dan yodium povidon 7,5% yang dilarutkan 10 kali. Yang terakhir ini lebih efektif, hanya pada sebagian kecil mengalami sensitisasi karena yodium . Rivanol mempunyai kekurangan karena mengotori kain .

PEMERIKSAAN PEMBANTU

Pada pemeriksaan laboratorik terdapat leuko- sitosis. Pada kasus-kasus yang kronis dan sukar sembuh dilakukan kultur dan tes resistensi. Ada kemungkinan penyebabnya bukan stafilokokus atau streptokokus melainkan kuman negatif-Gram . Hasil tes resistensi hanya bersifat menyokong, in vivo tidak selalu sesuai dengan in vitro.

BENTUK PIODERMA

Berbagai bentuk pioderma akan diibicarakan satu persatu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Elston OM , Berger TG , James WD . Bacterial Infection. In: Andrew's diseases of the skin. Clinical Dermatology. 10111 ed. Philadelphia: WB Saunders Company; 2006. p 251-96.

2. Braun FO, Plewig G, Wolff HH, Winkelmann RK. Dermatology. 3"' ed. New York: Springer Verlag; 1991 . p. 154-85

3. Swartz MN, Weinberg AN. Infections due to gram positive bacteria. In: Fitzpatrick TB, Eisen AZ, Wolff K, Freedberg IM, Austen KF. Dermatology in General Medicine. 8111 ed. New York: McGraw-Hill Book Company; 2012. p. 2121-263.